
Nephentes Hamata
Tiga Pencinta Nephentes (Kantong Semar) yang berasal dari Eropa merasa kagum dengan kawasan hutan Kolaka, pasalnya ketika melakukan penjelajahan di sekitar kawasan hutan Kolaka tepatnya di Kec. Mowewe di gunung Watuwila pada Januari 2008 lalu, mereka menemukan beberapa jenis Nephentes di daerah ini. Penjelajahan mereka ini selain bertujuan mendata dan mengambil gambar si kantong semar ini juga karena hobi mereka akan keunikan dari tumbuhan jenis karnivora ini (carnivorous plant) yang mampu membunuh serangga.
Urs (Jerman), Andreas (Swiss) dan Joa (Swiss) merasa beruntung dapat melihat langsung Nephentes di daerah ini di hari terakhir penjelajahan mereka. Awalnya mereka merasa ragu akan menemukan tumbuhan carnivore ini, karena setelah empat hari berjalan di kawasan hutan Mowewe ini para Pencinta Nephentes ini belum menemukan tanda-tanda

Nephentes hamata kolaka
keberadaan tumbuhan ini. Planing awal mereka sebenarnya adalah ke pegunungan Mekongga karena dari data yang mereka kumpulkan dari berbagai catatan dari penggiat alam terbuka yang pernah mendaki gunung ini melaporkan adanya keberadaan tumbuhan unik ini. Namun karena waktu tempuh pendakian ke Mekongga yang cukup lama dan sementara waktu kunjungan ke Indonesia mereka terbatas terpaksa penjelajahan mereka dialihkan ke gunung Watuwila. Penjelajahan mereka ini ditemani oleh sahabat kami Andy Adek (Mapala Proklamator Univ. Bung Hatta Padang) dan juga didampingi langsung oleh anggota terlatih korps Citaka-Indonesia “Colleng” yang juga pernah mendampingi tim Sulawesi Expedition pada penelitian Tumbuhan berbunga dan para peneliti dari LIPI dan USA conservatory pada penelitian Tanaman Begonia di Kawasan Hutan Pegunungan Mekongga beberapa Tahun lalu.

Nephentes tentaculata Kolaka
Adapun jenis-jenis Nephentes yang berhasil di temukan dalam penjelajahan tersebut adalah Nephentes Tentaculata, Nephentes Maxima, Nephentes Hamata, Nephentes Eymae dan Nephentes Blabrata. Di duga beberapa jenis lain masih terdapat di hutan ini. Dengan penemuan beberapa jenis nephentes ini kami berharap keberadaan kawasan hutan di Kolaka tetap kita pertahankan. Namun sepertinya hal tersebut hanya akan menjadi harapan semu belaka karena sebentar lagi kawasan hutan di Kolaka akan habis akibat ramai-ramainya Kuasa Pertambangan di terbitkan oleh Bupati .




















salam..
sebenarnya banyak spesies yang terkategori endemik pada daerah pegunungan khususnya dikawasan hutan2 primer sultra (Mekongga-red), khusus watuwila, bukan hanya kantong semar yang menjadi potensi..program pemerintah kabupaten masih kurang optimal dalam sosialisasi aspek biologi dan ekologis, sehingga orang asing lebih dulu mengidentifikasi jenis2 keanekaragaman hayati di sultra..
Terimakasih atas informasinya,..
Salam dari Mahacala Unhalu (MH 8147 AT)
Terima kasih telah berkunjung kerumah kami yang mungil dan sederhana ini mudah – mudahan bermanfaat bagi kita semua.
yang anda katakan memang 1000 % betul adanya, ” yang menjadi persoalan sekarang haruskah kita berdiam diri setelah melihat Pemerintah Daerah diam Berpangku Tangan “?? menunggu bukan ciri khas Citaka dan kami yakin andapun demikian.!! mari kita bersama-sama berbuat demi Tanah, Air, Ekosistim dan keaneka ragaman Hayati daerah yang kita cintai ini.
Terimah kasih Info baliknya
Salam Lestari
Korps Citaka Indonesia
iya bang…kelemahan itulah yang tampak bahwa sebenarnya peran pemerintah masih perlu ditingkatkan, terlebih lagi pemerintahan kabupaten Se Indonesia telah gencar2nya untuk mengeksploitasi semaksimal mungkin potensi2 daerah,untuk menutupi kekurangan anggaran belanja daerah…zip kemarin saya balik ke kendari, dari kantor dijakarta, saya mendapatkan tugas untuk menjadi pendamping dan memetakan potensi terumbu karang daerah pesisir di kabupaten konawe utara, dan hasilnya sangat mencengangkan, bayangkan aja status suatu kawasan konservasi dapat berubah mnjadi areal konsesi, demi pembangunan serta embel2 OTONOMI, wah kayaknya sebentr lagi kolaka akan menjadi sasaran dari prilaku tersebut..
Bang…satu realita yang menjadi kekhawatiran saya bahwa dengan semakin derasnya arus perpindahan masyarakat, lambat ataupun cepat berdampak pada proses pembukaan lahan apalagi didaerah Kolaka Utara, bisa banyangkan masyarakat yang migran ke kolaka dari setiap tahun mencapai angka diatas 500 KK yang kemudian menjadi Penduduk lokal, dari 500 KK ini yang berprofesi sebagai petani, akan membidik lahan2 yang sekiranya masih banyak tersedia dikawasan hutan primer kolaka..zip dalam angka 25 tahun kedepan hutan telah diubah menjadi lahan perkebunan, maka fungsi hutan berubah menjadi fungsi ekonomi..
semoga eksistensi kita dapat mengantisipasi keadaan itu..
Saya orang kolaka juga, tapi kolaka desa
kalau saya sering kekolaka, pingin sih ke sekret, silaturahmi.
kapan yah ada kegiatan bareng,..!!!!
Analisanya Oke, kapan2 kita Sharing bersama demi menjaga keutuhan Lingkungan daerah kita.
Buat aja Planing Tudang Sipulung PA Se – Sultra membahas Kerusakan Alam Di Sultra, jadi setiap perwakilan dari daerah membawa “Problem daerahnya masing – masing” Oke…
Kalau Kekolaka mampir aja di sekretariat.
Thanks
saat ini pemerintah memang sangat kurang memperhatikan kondisi dan peran penting oleh tumbuhan dan hutan…
dan yang paling disayangkan bangsa kita lebih bangga dan percaya oleh hasil yang diperoleh peneliti dari luar negeri, padahal jika diperhatikan sangat banyak potensi SDM bangsa kita yang terabaikan
Saya baru dua bulan lalu eksplorasi ke Watuwila. berdasarkan para porter di SAnggona (kaki Watuwila) memang para turis itu mencari kantong semar sampai ke puncak. memang Watuwila menyimpan keindahan yang bagus.
I agreed with you
Yth Korp Citaka
Mudah-mudahan masih ingat dengan saya, Saya pernah mendaki dengan bang Coleng ke Mekongga dua tahun yang lalu. kami mendapat banyak pengalaman dan sempat keracunan jamur, masih ingat kah..
ok, bulan Mei lalu saya masuk ke daerah gunung Watuwila. dan berhasil mencapai puncak terakhir pada ketinggian 2000m dpl. Kata pembantu lapang yang namanya pak Yusup, konon katanya pernah ditemukan Nepenthes di sekitar puncak watuwila. Tetapi sangat disayangkan ketika saya ke sana tidak satupun Nepenthes saya lihat. Kata mereka orang-orang bule telah mengambilnya dan mereka sempat bermalam disana.
Pertanyaannya apa benar orang bule tersebut mengambil Nepenthes dan
apakah status mereka sebenarnya peneliti atau hanya pencinta nepenthes. Kalau peneliti harusnya ada surat izin dari LIPI. Dan sebagai pengetahuan bahwa Nepenthes merupakan jenis tumbuhan yang dilindungi, sehingga tidak sembarang orang boleh mengambilnya. Kalaupun mau mengambilharus melalui prosedur yang panjang.
kalau benar orang asing telah mengambilnya, kayaknya kita telah kecolongan sumberdaya hayati kita yang sangat berharga. Sebab nepenthes merupakan tumbuhan yang sangat dicari pada saat ini.
khusus buat kang Coleng, sampaikan salam saya dan pak Harry ke semua tim yang pernah ikutan ke watuwila, juga untuk semua anggota Citaka
Terima kasih
To deden
Tentu kami masih Ingat, Special ketika ” KERACUNAN ” Jamur suatu Pengalaman yg sangat berharga…
Mengenai Nephentes digunung watuwila tetap masih ada dan Orang Bule tersebut, jangankan mengambil menyentuhnyapun tidak sama sekali karena mereka Pencinta nephentes & Fotografer yang hanya ingin mengabadikan gambar.
Kemungkinan mas Deden tidak menemukan lokasi Nephentes tersebut karena pada saat kami kepuncak Watuwila memang masyarakat yg menjadi porter kami tidak ikut sampai kepuncak karena mereka takut oleh ” Penunggu Gunung ” tersebut.
Kapan main ke Kolaka lagi ?
Salam buat kawan di LIPI dan salam hangat buat Pak Hary
All Crew Korps Citaka
Buat Mas deden…jangan terlalu negative thinking dengan mereka (orang bule), asal tahu saja setiap detik dari gerak-gerik mereka diawasi oleh anggota Korps Citaka yang mengantar mereka.Kami juga tak mau kehilangan salah satu sumber daya alam kami.Ok.
Salam buat teman-teman peneliti. kalau mau liat nepenthes di Watuwila silahkan kontak langsung dengan kami. Insya Allah kalau Tuhan mengizinkan dan dengan niat yang baik pasti akan ketemu…..
Thanks.
Yth. Korps Citaka
Terima kasih banyak atas tanggapan dan informasinya. Kalau boleh tahu kira-kira pada ketinggian berapakah nepenthes ditemukan. Sebab saya baru sampai pada ketinggian 2000m saja. apakah ada puncak lainnya. Trus sekedar informasi, Kami juga punya ahli Nepenthes yang sekarang lagi intensif melakukan penelitian dan pengembangan Kantong semar tersebut. Jadi kalau boleh dan tidak keberatan saya butuh informasi tentang lokasi tersebut dan akan saya sampaikan pada beliau. mudah-mudahan tertarik dan bisa pergi ke sana. Selain Nepenthes kami juga sedang intensif penelitian pandan-pandanan kalau ada yang punya info bolehlah kita sharing mudah-mudahan kawan-kawan di Sini tertarik pergi lagi ke sana.
Selamat berjuang untuk kelangsungan dan kelestarian alam kita tercinta.
Deden
luar biasa, tidak ada yang mengalahkan keindahan nepenthes di habitat alamnya …. semoga tetap lestari
pakde (KTKI)