TEKNIK PEMASANGAN TALI (RIGGING)

Rigging adalah teknik pemasangan tali baik vertikal , horizontal maupun lintasan untuk rescue. Pemasangan lintasan ini harus selalu memperhatikan beberapa syarat agar bisa disebut sebagai rigging yang baik:

a. Aman untuk dilewati oleh semua anggota Tim.

b. Tidak merusak peralatan

c. Dapat dilewati oleh semua anggota Tim.

d. Siap digunakan untuk keadaan emergenci.

Anchor.

Anchor adalah point atau obyek yang akan dijadikan tambatan. Dalam pemilihan anchor perlu adanya perhitungan antara lain :

a). Jenis tambatan

b). Posisi tambatan

c). Kekuatan tambatan.

Berdasarkan jenisnya, anchor dibagi menjadi :

a. Natural Anchor (tambatan alam)

1. Pohon, sebelum kita memakai jenis ini kita harus memeriksa jenis pohon, umur pohon (dimensinya), tempat tumbuh, posisi tumbuh maupun kondisi dari pohon tersebut.penentuan jenis pohon adalah dari jenis nilai kekuatan kayu (serabut tunggang). Penentuan dari jenis akar ini dipengaruhi oleh mediah tumbuhya (andesit, kapur dl.). Pemakaian dari jenis ini harus pula memperhatikan posisi tambatan yang kita pasang pada pohon tersebut.

2. Lubang tembus.

Sebuah lubang yang bisa kita temui didinding, lantai maupun atap goa bisa terbentuk vertikal maupun horizontal. Sebelum menggunakan kita harus mengecek kelayakannya dengan memeriksa kekerasan batuan, keutuhan ,dan sruktur batuannya.

3. Rekahan, celah yang terbentuk dari pengikisan lapisan (horizontal) maupun crek (vertikal). Untuk jenis ini kita menggunakan pengamana sisip maupun paku tebing . bentuk celah , jenis celah , lebar celah arah penyepitan celah kondisi , permukaan bidang yang akan di di gunakan dan arah tarikan yang diinginkan harus diperhitungkan.

4. Chock Stone, batu yang terjepit pada celah sehingga berfungsi seperti pengaman sisip, atau biasa disebut chock. Sebelum digunakan terlebih dahulu periksa celah dan batu yang terjepit. Untuk celah harus diperhatikan pada bentuk celah, jenis celah, lebar celah, arah penyempitan celah dan kondisi permukaan bidang (bidang priksi, kekerasan pelapis). Untuk batu yang terjepit periksa jenis dan keadaan dari bentuk dan posisi terjepitnya. Setelah itu kita tentukan arah tarikan yang akan dibuat lalu perhatikan posisi peletakan webbing pengikatnya.

5. Tanduk (horn), jenis ini berupa pinggira dinding yang menonjol hasil dari air. Bentuk tonjolan harus selalu diperhatikan untuk menentukan tarikan dan teknik pemasangan webbingnya.

6. Ornament, biasanya hanya digunakan untuk mendapat beban horisonn (deviasi), karena ornament ini hanya menempel pada lantai tumbuhnya. Jenis anchor ini jarang digunakan karena praktis merusak pertumbuhannya.

b. Anchor buatan, pada pembuatan lintasan jika sudah tidak dapat menemukan natural anchor yang layak digunakan maka satu-satunya cara adalah menggunakan anchor buatan yang menggunakan bolts/spit/tebing.

Berdasarkan posisi dan urutan penerimaan beban maka anchor dibagi atas :

a. Main anchor, anchor utama, yaitu anchor yang secara langsung mendapatkan beban saat lintasan digunakan

b. Back-up, berfungsi sebagai cadangan jika main anchor terlepas atau jebol, jumlah anchor ini bisa lebih dari satu, dan nilai kekuatannya harus lebih besar dari main anchor.

Penempatan posisi back-up harus tetap memperhatikan keamanan tali dari friksi dan kerusakan lainnya ketika main anchor jebol.

Fall Factor

Adalah beban hentakan yang diterima oleh tali, back-up anchor, maupun penelusur ketika main anchor jebol. Untuk itulah harus selalu diperhatikan posisi antara main anchor dan back-up anchor.

Dalam kondisi medan tertentu kadang kita kesulitan untuk mendapatkan posisi back-up yang lebih tinggi dari pada main anchor. Untuk mengatasi hal tersebut kita menurunkan nilai fall factornya dengan memendekkan panjang lengkungan tali, memanjangkan simptul pada main anchor maupun memanjangkan anchor.

Simpul

Simpul adalah suatu bentukan tertentu (lilitan, tekukan) yang dibuat pada tali yang di fungsikan untuk menambatkan tali pada anchor, maupun untuk keperluan tertentu. Penegetahuan tentang simpul dan kemampuan membuat simpul dengan mudah dan cepat adalah bagian penting yang harus dimiliki seorang penelusur goa. Menguasai dan memahami simpul yang penting saja (sering dipakai dan dapat digunakan pada saat emergency) jauh lebih baik dari pada hanya mengenal bermacam-macam simpul tanpa tahu fungsi dan kegunaannya. Pendalaman dan pemahaman simpul yang penting dan sering digunakan dalam penelusuran goa secara detail, akan memudahkan jika ada terjadi emergency, pertolongan akan lebih mudah dilakukan seorang penelusur dalam membuat simpul tanpa harus membuat dua kali, sehingga berlaku sebagai reaksi otomatis.

Criteria simpul yang baik

Simpul yang baik untuk penelusur goa vertikal dibagi 5 (lima) criteria adalah sebagai berikut :

1. Mudah untuk dibuat dan serbaguna.

2. Mudah dilihat kebenaran lilitannya.

3. Aman, dengan ikatan/lilitan tidak bergerak dan bergeser ataupun bertumpuk pada saat dibebani.

4. Mudah dilepas/diurai setelah dilbebani.

5. Mengurangi kekuatan tali seminimal mungkin.

Seorang penelusur yang baik harus ingat seperti apa simpul yang baik dan tahu cara menelitinya lagi apakah simpul yang dibuat/akan dipergunakan sudah benar. Hal ini sebaiknya bisa dijadikan standart praktek yan aman bagi sebuah tim penelusur goa dan bukannya diterima sebagai suatu ejekan atau suatu penghinaan.

Factor keamanan yang dimaksud adalah kemampuan simpul tetap terikat kuat setelah disimpul. Beberapa simpul dalam bentuk dasarnya cenderung kehilangan fungsi kerjanya bila tidak diberi beban (mengendor) lilitannya. Seperti pada simpul bowline adalah contoh yang paling umum. Untuk mengatasi hal itu simpul ini harus diakhiri dengan sebuah simpul Overhand Knot. Seluruh lilitan dikencangkan dengan tangan sebelum dipakai dan diberi sisa paling sedikit 10 cm.

Pada prinsipnya semua simpul mengurangi kekuatan tali pada tempat simpul yang dibuat, dengan alasan simpul tersebut mengakibatkan tali bertekuk-tekuk. Pada waktu tali diberi beban, pilinan disisi dalam tekukan simpul mendapat beban lebih banyak disbanding serat sisi luar tekukan simpul sehingga daerah tersebut menjadi lemah. Walaupun letak titik putus dari tali tidak bisa dipastikan. Berikut daftar simpul yang banyak digunakan.

Bowline

Pada dasarnya bowline merupakan simpul yang paling banyak dikenal dan digunakan. Bowline dapat memberikan hasil yang baik bila tali yang digunakan melingkari obyek tertentu misalnya, anchor poin yang dipasang pada pohon atau pinggang. Bowline dapat dibuat dengan tepat dan mudah tanpa memerlukan banyak latihan dan dapat dibuat dengan satu tangan dalam keadaan gelap, sehingga sering digunakan dalam keadaan emergency. Kelebihan lain adalah bowline mudah diuraikan kembali, walaupun barui saja mendapatkan beban mendekati beaking strength. Hal ini dapat dibuktikan pada rescue. Harus selalu diingat ekor (tali) diletakkan dalam loop. Bowline belum selesai sebelum diamankan disimpul dengan stopper yang biasa digunakan adalah Overhand Knot.

Figure eigth loop (simpul delapan)

Simpul figure eigth loop lebih aman dibandingkan bowline dan merupakan simpul yang sering popular pada kegiatan penelusuran goa. Simpul ini dapat dibuat dengan benar jika ikatan pada standing partnya berada diluar dan ekornya terletak didalam. Jika simpul ini dibuat terbalik (standing parnya didalam) simpul ini akan berkurang lagi kekuatannya sebanyak 10 % dari standart kekuatan simpul. Untuk figure eigth loop mempunyai kelebihan lain yaitu lebih cepat dan mudah diteliti, selain itu simpul ini bersifat serba guna.

Overhand Knot

Simpul ini dapat digunakan sebagai pengganti simpul figure eigth loop like dalam keadaan emergensi karena factor kecepatan. Bagaimanapun juga simpul overhand tidak kuat simpul delapan. Hal ini dapat dilihat table dua selain itu simpul overhand knot jika terkena beban susah untuk diuraikan kembali. Akan tetapi simpul ini sering digunakan untuk mengamankan simpul utama supaya tidak terlepas dari ekornya.

Fisherman Knot

Menyambung tali sering digunakan dalam penyambungan tali untuk pitch rigging maupun penyambungan sling. Untuk menyambung tali dengan diameter yang sama biasanya sering digunakan adalah simpul delapan sambungan (simpul delapan ganda maupun simpul delapan tunggal) atau duble fisherman.

Tetapi untuk diameter yang berbeda, simpul fisherman adalah lebih baik dari simpul delapan sambungan. Biasanya untuk memudahkan dalam menyambung tali, simpul delapan sambungan sering digunakan karena mudah diteliti dan mudah diuraikan walupun simpul double fisherman lebih kuat dibandingkan dengan simpul delapan. Untuk menyambung wabbing atau pita anchor yang paling popular adalah simpul overhand knot sambungan (water knot), karena selain tidak melipat webbing simpul ini mudah dipelajari, mudah dibuat dan mudah diuraikan.

Butterfly Knot

Simpul ini biasa dibuat dengan tali, yang biasa dibebani baik pada loopnya maupun pada bagian yang terdiri (standing part). Mudah diatur dan mudah diurai setelah dibebani. Biasa difungsikan untuk simpul rigging, simpul pengaman ditengah tali (traverse), maupun untuk mengamankan bagaian cacat dari tengah tali.

Playboy knot

Biasa juga disebut simpul kelinci (rabbit knot). Simpul ini dibuat dengan bentuk dasar dari simpul delapan perbedaannya adalah mempunyai dua loop. Simpul ini biasa digunakan untuk membentuk Y anchor, yaitu masing-masing loop ditambatkan pada anchor yang berbeda.

Italian hitch

Simpul ini adalah simpul bergerak (lilitannya bisa bergerak) bisa digunakan untuk belaying, lowering, hauling, maupun Descending.

Salah satu syarat rigging yang baik adalah tidak merusak alat, kerusakan yang muncul biasanya adalah pada tali karena friksi dengan tebing/batu. Untuk itu dibuat beberapa macam anchor yang berfungsi untuk menghilangkan friksi tersebut.

Y-Anchor

Adalah anchor yang berbentuk “ Y “ dimana ada dua anchor yang selalu dibebani bersama. Selain untuk menempatkan lintasan pada posisi friksi, juga untuk membagi beban pada dua anchor. Pembagian beban lebih pada satu sisi anchor, dilakukan dengan menggeser posisi jatuhnya tali mendekati anchor tersebut. Pembagian ini harus selalu memperhitungkan kekuatan tiap anchor.

Yang paling perlu diperhatikan adalah besar sudut yang terbentuk oleh pertemuan dua sisi tali (yang tertabat di anchor). Berikut ini adalah teble dari beban yang diterima tiap sisi untuk obyek dengan berat 100 kg.

Intermediet anchor

Prinsip kerja anchor ini adalah dengan membuat anchor tambahan pada titik friksi atau pada posisi lain yang lebih tinggi yang menjauhi titik friksi. Kekuatan anchor ini juga harus dipilih beban vertical. Pemasangan anchor bisa dengan Y anchor, distribution anchor, bahkan bisa ditambahkan back-up. Pada waktu lintasan ini dilewati maka anchor ini berubah fungsi menjadi main anchor.penyambungan tali pada anchor intermediet dilakukan dengan saling mengaitkan kedua tali dan ditambahkan pada anchor.

Deviasi anchor

Anchor ini menghilangkan friksi dengan cara menarik arah lintasan tali kearah luar dari titik friksi, dan jarak antara main anchor dengan anchor deviasi menunjukkan besar sudut pergeseran, yang berarti menentukan beban horizontal yang akan diterima anchor deviasi. Sehingga bisa dikatakan bahwa semakin dekat anchor deviasi dengan main anchor dengan panjang tarikan yang sama menambah daya tarik horizontal yang diterima anchor deviasi.

Manajemen Rigging

Selain kemampuan personal dalam teknik pemasangan lintasan, diperlukan pula suatu pengaturan kerja di dalamnya.

Organisasi Rigging

Dalam setiap kegiatan rigging minimal dilakukan oleh dua orang yaitu :

1. Rigging man (Rm), adalah orang yang bertugas memasang lintasan utama, orang ini selalu bertanggungjawab atas keamanan dan kekuatan lintasan yang telah dipasang. R man harus benar-benar menguasai tekhnik vertical (SRT, Climbing,Rescue dll), tekhnik rigging, peralatan dan jam terbang yang cukup.

2. Asisten rigging (Ar), yaitu orang yang bertugas membantu rigging man untuk menyiapkan peralatan rigging yang dibutuhkan, dan memastikan keamanan riggingnya dengan melakukan belaying.

Packing

Untuk mengefisienkan proses pemasangan lintasan, packing peralatan yang digunakan harus dilakukan dengan benar :

a. Packing tali secara terpisah, jika terdiri dari banyak potongan tali, tentukan urutan tali yang dipacking pada tiap tacklebag sesuai dengan perencanaan operasional.

b. Sebisa mungkin pisahkan peralatan logam dan non logam dan kelompokkan tiap jenis sesuai dengan fungsinya. Sehingga ketika membutuhkannya mudah untuk mengambil dan menghindari tercecrnya peralatan.

Prosedur Pemasangan Lintasan

a. Jangan berdiri terlalu dekat dengan pitch, cari dan uji anchor yang akan mengamankan Rm untuk mendekati bibir pitch dan proses selanjutnya. Persiapkan peralatan yang mungkin akan digunakan Rm (Webbing, Carabiner, Hammer dll)

b. Dekati bibir pitch dengan belay oleh Ar, perkirakan kedalaman pitch, perkirakan bentuk pitch dan friksi yang ada, cari kemungkinan letak anchor yang akan digunakan dan bentuk lintasan yang akan dibuat, jika Rm memerlukan peralatan tambahan, informasikan ke Ar.

c. Cari posisi anchor yang lebih tinggi dari bibir pitch dengan tetap memperhatikan keamanan. Pada tahapan ini kecermatan, disiplin dan konsentrasi jauh lebih baik dari pada kecepatan. Selalu uji dulu kondisi-kondisi dan kekuatan anchor yang akan kita gunakan. Pasang back-up dan main anchor. Setelah siap dipindahkan kelintasan utama, berdirilah di bibir pitch, perkirakan anchor tambahan yang diperlukan untuk membebaskan lintasan dari friksi.

d. Bersihkan lantai atau dinding yang dilewati dari batu yang mungkin runtuh ketika anggota tim lain melewati.

e. Informasikan ke Ar untuk disampaikan ke anggota tim yang lain tentang lintasan yang dibuat (Intermediet, deviasi, sambungan), ataupun lintasan yang memerlukan maneuver khusus untuk melewati lintasan yang ada.

f. Informasikan pula keadaan medan, kondisi yang bisa mengakibatkan kecelakaan (menghindari ornamen, binatang, lantai licin, rock fall dll)yang perlu dicermati.

g. Gunakan kode yang disepakati untuk berkomunikasi, contoh :

1. Rope free, kode bahwa lintasan sudah bebas/ siap untuk digunakan. Pada proses Descending jika penelusur sampai ke bawah, cari posisi aman, sebelum memberikan aba-aba ini.

2. Rock fall, peringatan adanya batu yang terlepas dan jatuh kepada penelusur yang ada di bawah.

3. Dll

About these ads

5 Responses to “TEKNIK PEMASANGAN TALI (RIGGING)”


  1. 1 julyanda Februari 6, 2009 pukul 5:49 pm

    bpk yth
    kalo bisa ditampikan dengan bentuk gambarnya ya….biar lebih sip
    trims

  2. 2 korps citaka Februari 6, 2009 pukul 6:31 pm

    To julyanda, makasih atas sarannya.

  3. 3 harsyah Agustus 27, 2009 pukul 6:38 pm

    setuju banget tuh….
    law bisa dikasih gambarnya. . .
    biar kita lebih mudah untuk mempelajarinya,,,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Info Citaka

*Bagi pengunjung yang akan memberi komentar, saran, dan kritik yang bersifat menghujat dan berpotensi sara akan kami edit, terima kasih

IDENTIFIKASI PENGUNJUNG

MY STATUS

Icak

Indy

Mien

Nelly

PENGUNJUNG ON LINE

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 181,245 Pengunjung

PENGUNJUNG TERAKHIR

DAPATKAN $ USD Dengan 1X Klik

http://adf.ly/97301/banner/www.google.com

BERITA BERITA TERBARU

Masukkan alamat Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 15 pengikut lainnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: