
Puncak Mekongga
Setelah menempuh perjalanan selama 3 hari (14-17) melewati rute yang cukup panjang dari desa Tinukari Kab. Kolaka Utara sampai ke Puncak (+3 km jarak datar berdasarkan perkiraan peta), akhirnya Bendera Merah Putih berkibar di puncak Mekongga, Puncak Gunung Karst tertinggi di Sulawesi Tenggara (2620 mdpl). Dua Anggota dari Korps Citaka Indonesia (Rustam Colleng & Ridwan Sudding) yang mengemban amanah dari sang Ketua Umum Ir. Muh. Rais Ambo untuk mengibarkan sang merah putih di puncak
Mekongga berhasil membuat batuan Karst Mekongga yang kehitam-hitaman tersebut menjadi bercahaya dengan pantulan warna merah dan putih dari bendera yang berukuran tidak seperti biasanya yang di gunakan dalam upacara peringatan HUT RI di berbagai tempat. Ukurannya hanya 6 x 4,5 m namun sudah memberi warna tersendiri dalam Peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke 63 ini di puncak karst yang tidak terlalu luas. Uniqnya lagi, kedua pemuda ini menjadi pengibar bendera sekaligus peserta upacara dan penyayi lagu Indonesia Raya. Walau hanya berdua upacara peringatan kemerdekaan Indonesia ala Pencinta Alam

Merah Putih di Puncak Mekongga
berlangsung khikmad. Awalnya kedua anggota korps Citaka ini akan melangsungkan upacara bersama 8 orang pencinta alam lainnya dari Kota Kendari yang telah berangkat lebih awal sehari sebelum mereka yang sempat bertemu pada tanggal 16 Agustus di jalur pendakian, namun karena waktu yang sudah menjelang magrib memaksa dua anggota Korps Citaka beristrahat dan sekaligus Camp di Hutan Lumut yang waktu tempuhnya ke puncak sekitar 4 jam lagi. Maka pengibaran benderapun hanya dilakukan oleh dua anggota Korps Citaka walau menjelang tengah hari lewat yaitu pukul 15.00. Pendaki lainnya yang Camp lebih dekat dari puncak lebih awal menuju puncak. Dari jumlah mereka yang delapan hanya lima orang saja yang mendaki ke puncak, karena tiga orang lainnya harus turun lebih awal dikarenakan salah seorang diantara mereka terganggu kesehatannya akibat cuaca yang buruk yaitu hujan dan angin kencang. Dan karena cuaca yang tidak bersahabat itu pula ke lima pendaki tidak bisa berlama-lama dan menunggu dua anggota korps Citaka yang sedang beristrahat dikaki puncak dan sedang mempersiapkan perlengkapan upacara sambil menanti redanya angin kencang.
Rencana pengibaran bendera di Puncak Mejkongga memang sudah di agendakan sebelumnya oleh Korps Citaka Indonesia dan rencananya akan mengibarkan bendera yang berukuran lebih besar, namun rencana itu tinggal rencana karena beberapa anggota Citaka sedang sibuk-sibuknya dengan aktivitas masing-masing. Ridwan Sudding dan Rustam Colleng merasa bahagia dan terharu karena mampu mewujudkan agenda tersebut di tengah-tengah kesibukan mereka. Dengan memanggul beban Carrier yang berat di pundak mereka, dengan melawan arus dari deras dan dalamnya air sungai yang disebrangi, dengan melupakan keletihan dari tracking yang panjang, dengan menahan ekstrimnya cuaca pegunungan, dengan merasakan sayatan dan tusukan semak belukar dan duri yang perih serta menyakitkan, dengan resiko dari terjangan binatang buas dan sengatan serangga, pacet dan dedaunan jelatang yang gatal dan menusuk kulit, dengan cengkraman dan pijakan yang kuat di atas batuan karst yang tajam dan dengan melupakan segala kesibukan mereka dan keramaian kota, Mereka mengantarkan Sang Merah Putih berkibar dan berjaya di atas puncak tertinggi Sulawesi Tenggara.
“Apapun komentar orang-orang, Inilah cara kami memperingati Kemerdakaan Indonesia, Terima Kasih kami kepada para pahlawan bangsa yang telah memperjuangkan Indonesia ini sehingga kami dapat menikmatinya sekarang..Merdeka..!” Kata Ridwan Sudding saat selesai melakukan Pengibaran bendera. Selain itu Rustam Colleng juga menambahkan “ Perjuangan kami mencapai puncak dan mengibarkan bendera ini belum sebanding dengan perjuangan para pahlawan kita sebelumnya, makanya mari kita jaga negeri ini, alam ini beserta isinya agar lestari dan Jaya, karena dengan ini kita meneruskan perjuangan para pahlawan kita…merdeka..!!!.
Mendaki puncak Mekongga dan mengibarkan Bendera Merah Putih diatasnya memang sebuah kebahagian tersendiri bagi kedua anggota Korps Citaka itu, apalagi disaat peringatan 63 tahun puncak perjuangan menggapai Kemerdekaan Indonesia dari cengkaraman penjajah asing. Keletihan dan kepenatan mereka dalam pendakian terbayarkan dengan nikmatnya alam kemerdekaan di pegunungan Mekongga, mereka dapat menikmati indahnya berbagai jenis tumbuhan nephentes yang sedang berbunga, ukiran alam pada

nephentes mekongga
puncak-puncak batu karst yang berjejer kokoh dan menawan, segarnya udara yang keluar dari rimbunnya hutan rimba, sejuknya mata air pegunungan yang melimpah, kicauan burung rangkong sulawesi yang endemik, teriakan macaca yang sedang bermain-main dipohon, foot print dari anoa pegunungan endemic sulawesi, dan rasa syukur pada Allah atas Berkat dan Rahmat-Nya mengantarkan Indonesia Merdeka. Dan akhirnya Peristiwa Pengibaran Sang Merah Putih tersebut semuanya terekam dari balik Kamera Mirwanto Muda, Terima Kasih kepada Bang Icak yang sudah Mau memuat tulisan ini dan mengedit filmnya. Terima kasih kepada Kanda Nelly Patiung yang sudah membantu, juga kepada Bang Amin Halimun atas donasinya kepada kami, juga pada Vera atas bantuan logistiknya yang telah membuat makan kami jadi nikmat di gunung, Darwis Sarkani atas saran-sarannya, serta Kanda Ketum Ir. Muh. Rais Ambo juga pada semua yang telah membantu dan berdoa dalam mengiringi perjalanan tim merah putih. Merdeka…!!

Antho Citaka




















Salam MErdeka,
Wuih jadi merindingka hae…
apapun kata orang itulah cara kita memperingati kemerdekaan..
Salut buat teman Cplleng, Teman Ridwan dan Teman Anto yang telah meluangkan waktu ditengah kesibukannya..untuk mewujudkan amanh orang banyak..untuk melihat bendera merah putih menyinari karst mekongga..
saya kangen suasana tersebut
salam lestari ??? gmn kbarnya ?
wah keren banget fotonya….selamat ya buat teman-teman citaka yang sudah sudah payah mendaki gunung dan mengibarkan merah putih disana….Merdeka!!!esok-esok ajak aqu juga, biar rame gitchu lho. kasian cuman berdua bawa bendera sebesar itu.salam ya buat kameramennya.
Rina Kendari
Nto…ko tidak ingat-ingat ja di gunung to,…jangan-jangan ko liat anoa ko kira saya pi hae..
Hikss..mentang-mentang kita jauh, da tidak minta beras ta buat digunung, minimal saya bisa kasi ko doa (doanya orang teraniaya biasanya manjur)
Bukannya begitu indy,soalnya sudah cukupmi,kan berduaji pengibarnya….itupun ada kelebihan,kan kalo kelebihan logistik berat cian bawaanya,nantipi tunggu tanggal mainnya, beras dengan lauknya saya minta,doa sy butuhji juga.ok.diingatjiko selalu…..thanks.
buat rina di kdi, thanks..sdh memberi semangat buat kami, kalo ada waktu silahkan jalan-jalan saja kesini dan sekaligus mendaki bersama,masih banyak gambar lain di sekret kami.ok. salam kembali.
antho.
halo bang msih ingat dengan Timbi?
Merdeka………!!!!
Ajak juga saya dari medan mau naek gunung di mekongga.
blsssssssssssssss ko hae sa dotiko itu / // candaji
HALO YUSUF…KAMU DIMANA SEKARANG ???