KASUS PERTAMBANGAN PT. FREEPORT

PT. Freeport McMoran Indonesia
Perusahaan :PT. Freeport McMoran Indonesia
Jenis Galian :Tembaga dan Emas
Tahap :Produksi
Lokasi :Grasberg dan Eastberg, Pegunungan Jaya Wijaya
Luas Konsesi :1,9 juta ha (Grasberg) dan 100 Km2 (Eastberg)
Kontrak Karya :I . 7 April 1967 Kepres No. 82/EK/KEP/4/1967
II. 30 Desember 1996
Saham :Freeport McMoRan Copper & Gold Corp (81,28%) PT Indocopper Investama
(9,36%), dan pemerintah Indonesia sebesar 9,36%.

PT Freeport Indonesia adalah perusahaan tambang paling tua beroperasi di Indonesia. Bahkan perusahaan tambang Amerika Serikat inilah yang mengarahkan kebijakan pertambangan Indonesia. Terbukti Kontrak Karya (KK) PT FI ditetapkan sebelum UU No 11 tahun 1967 tentang pertambangan Umum. Dan catatan buruk akibat dampak pertambangannya di Papua sangatlah luar biasa.

Dimulai dengan digusurnya ruang penghidupan suku-suku di pegunungan tengah Papua. Tanah-tanah adat tujuh suku, diantaranya suku Amungme dan Nduga dirampas awal masuknya PT FI dan dihancurkan saat operasi tambang berlangsung. Limbah tailing PT FI telah meniumbun sekitar 110 km2 wilayah estuari tercemar, sedangkan 20 – 40 km bentang sungai Ajkwa beracun dan 133 km2 lahan subur terkubur. Saat periode banjir datang, kawasan-kawasan suburpun tercemar Perubahan arah sungai Ajkwa menyebabkan banjir, kehancuran hutan hujan tropis (21 km2), dan menyebabkan daerah yang semula kering menjadi rawa. Para ibu tak lagi bisa mencari siput di sekitar sungai yang merupakan sumber protein bagi keluarga. Gangguan kesehatan juga terjadi akibat masuknya orang luar ke Papua. Timika, kota tambang PT FI , adalah kota dengan penderita HIV AIDS tertinggi di Indonesia.

Ironisnya, disaat penghasilan PT FI naik dua kali lihat pada tahun 2005, hingga mencapai 4 kali PDRB Papua. Index Pembangunan Manusia (IPM) Papua berada di urutan ke 29. Dari 33 propinsi. Nilai IPM diekspresikan dengan tingginya angka kematian ibu hamil dan balita akibat kurang gizi. Lebih parah lagi, “kantong-kantong kemiskinan” di yang berada di kawasan konsesi pertambangan PT FI mencapai angka di atas 35%. Menjadi sangat ironis. Disaat gaji dan tunjangan dua orang CEO PT FI (James Moffet dan Richard Aderson) mencapat US$ 207,3 juta, pendapatan rata-rata penduduk Papua kurang dari US$ 240 per tahun. Hasil Audit BPK tahun 2005, atas pengelolaan penerimaan negara bukan pajak pada Departemen ESDM dan PT FI untuk tahun anggaran 2004 – 2005 menunjukkan Indonesia belum mendapatkan hasil optimal dari KK PT FI.

Secara khusus perusahaan membayar militer untuk mengamankan perusahaannya. Dalam aporan resmi tahunan Freeport tertulis telah memberikan sejumlah US$ 6,9 juta pada tahun 2004, lalu US$ 5,9 juta pada tahun 2003, dan US$ 5,6 juta pada tahun 2002 kepada militer (TNI). Hampir setiap tahun, perusahaan selalu melaporkan telah membiayai TNI untuk melindungi keamanan tambangnya. Daftar panjang pelanggaran HAM juga terjadi disekitar pertambangan PT FI. Intimidasi adalah kondisi keseharian yang harus dihadapi warga sekitar tambang.

Bergabungnya jajaran ahli ekologi, akademisi, ekonom, pengamat HAM, gender dan kesehatan yang terpelajar dan ternama ke jajaran Badan penasehat PT FI, seperti Prof. Otto Soemarwoto, Prof. Dr. Oekan Abdullah, Dr. .M. Chatib Basri, Prof. Dr. Farid Anfasa Moeloek hingga HS Dillon. Ternyata, sama sekali tak berpengaruh merubah perilaku PT FI. Sebaliknya, mereka manjadi alat penguat klaim Freeport sebagai perusahaan yang bertanggung jawab.

Anenya hingga saat ini tak ada tindakan signifikan apapun yang dilakukan oleh pemerintah terhadap PT Freeport. Wajar jika rakyat Papua menuduh pemerintah Indonesia hanya merampok kekayaan mereka. Aksi-aksi yang terus mendesak pertambangan ini dikaji ulang atau segera ditutup terus merebak.

19 Responses to “KASUS PERTAMBANGAN PT. FREEPORT”


  1. 1 MAYA Juni 27, 2010 pukul 10:19 am

    bangsa indonesia mau-mau saja dijajah untuk kesekian kalinya….
    bila pemerintah terus saja bungkam dengan dengan keberadaan freeport…, bangsa Indonesia ibarat hanya menunggu bom waktu yang siap meledakkan negara ini..

  2. 2 mbuh Januari 18, 2011 pukul 10:43 pm

    Ya udah rakjat papua belajar cocok tanam aja daripada belajar tambang gak siaap. Buka ” lahan gak jelas bikin gundul. Pindah tempat lain buka ladang

  3. 3 OJAK April 28, 2011 pukul 12:59 pm

    KEJAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAM

  4. 4 Hary Hans Prada September 11, 2011 pukul 8:17 am

    kenapa perusahaan asing juga mengalami seperti ini, padahal yg di harapkan dari ini smua adalah utk indonesia yg lebih baik…

  5. 5 whyrfan September 27, 2011 pukul 8:03 pm

    bisanya merusak kekayaan SDA papua aja, banyak korban masyarakat papua yang harus meninggalkan tempat tingglanya.
    TAK BISA DI BIARKAN……

  6. 6 Anonymous Oktober 2, 2011 pukul 1:37 pm

    ya Ampuunn, scara tdk lngsung tlah mmbunuh stu per satu rkyat papua..
    Tega sekali Hai Para Pembangun PT. freeport.
    KEJAM !!

  7. 7 bayang Oktober 11, 2011 pukul 3:28 pm

    pemerintah harusnya jangan lemah menyikapi kejadian di freeport,
    US$ 6,9 juta untuk pengamanan saja?? sebanarnya apa yang terjadi dibalik kesepakatan indonesia dan freeport itu yang kita tidak tahu, saya pernah baca indonesia hanya mendapat 1 persen dari penghasilan freeport, dan upah tenaga buruh disana juga relatih sangat kecil, ini berarti freeportnya terlalu banyak mendapat untung.

    tidaklah heran di papua sana mereka memberontak, uangnya lari ke penguasa2 penandatangan kesepakatan, sudahlah, bapak2 tni/polri, biarkan saja pt itu dibakar oleh orang2 pribumi sana, toh US$ 6,9 juta itu juga masuk ke tangan pemimpin2 kalian.

  8. 8 Anonymous Oktober 21, 2011 pukul 1:26 pm

    Potongan pajak karyawan freeport juga gede,,asal tahu aja dari 7 hasil tambang, hanya 4 yang dilaporkan,, dan salah satu hasil tersebut adalah Uranium. Wow…
    Seharusnya pemerintah sudah mulai peka dengan masalah ini.
    Sudah cukup banyak perusahaan ini mendzolimi bangsa ini.
    Ayo Indonesia, jangan sampai ada zionis masuk di negara kita…

  9. 9 Anonymous Oktober 27, 2011 pukul 6:13 am

    jangan dibiarkam rayat papua miskin kasihlah kerja’an rayat papua.

  10. 10 UzzGotoholic'Z November 2, 2011 pukul 1:02 pm

    Kapan damainya ?

  11. 11 dodolz November 3, 2011 pukul 11:55 pm

    Ganyang freeport !!!!! jgn mau di eksploitasi bangsa asing. birokrasi & TNI hrs di benahi jg mengambil keuntungan di atas penderitaan rakyat papua……..

  12. 12 dodolz November 4, 2011 pukul 12:11 am

    kasihan rakyat papua ngga bs menikmati SDA tanah pupua, justru TNI & BIROKRASI negara ini yg menikmati…….. ganyang freeport !!!!!

  13. 13 dodolz November 4, 2011 pukul 12:11 am

    kasihan rakyat papua ngga bs menikmati SDA tanah papua, justru TNI & BIROKRASI negara ini yg menikmati…….. ganyang freeport !!!!!

  14. 14 Anonymous November 18, 2011 pukul 12:35 am

    setuju banget…………dari dulu saudara kita di papua berlian hitam, belum pernah sekaligus tidak bisa menikmati kekayaan alamnya yang begitu sangat luar biasab sy pribadi merasakan tangisan mereka yang miris meringis sejak jaman trikora sampai trisoetrisno jg jaman 3G………….tolong kepada para aparat pemerintah yang terkait kembalikan hak mereka sejahtrakan rakyat papua………….terimakasih

  15. 15 Adisti Prisa Ayu Utami November 19, 2011 pukul 3:32 pm

    cape,,,
    kalo liat kayak gini,,,rasanya mau mukulin orang amerika dan orang asing yang bisanya ngejajah indonesia,,,tapi mau gimana juga,,,,kita dan jajaran pemerintah turut andil dalam masalah ini,,,,
    cuma karena dapet iming-iming2 pemasukan negara…….
    akhirnya berbanding terbalik dari yang diharapkan
    kebanyakan mudharatnya
    bodoh,,,apa yang akhirnya didapat n sisi positif yang didapat oleh indonesia,,,,,pulau papua rusak, masyarakatnya tetap miskin dan sakit, kekayaan alam habis……………………………………………………………………..
    GILAAAAAA…..

  16. 16 necha... Desember 1, 2011 pukul 10:51 pm

    GILAA tu org,,
    udah ga punya hati nurani…
    … pemerintah bertindak tegas donk….!!!!1
    wajar kalo rakyat papua memberontak,, toh kehidupan mereka pun tak diperhatikan sama sekali,,,,,, uuukh’ ilfeel sangat..

  17. 17 pujie Desember 2, 2011 pukul 11:31 am

    hancurkan freeport !!!!!

  18. 18 Anonymous Oktober 5, 2012 pukul 5:52 pm

    ya ampun…demi kepentingan segelintir orang alam yang indah ini harus jd korban.penduduk harus menderita dan tergusur d tanah kelahirannya sendiri. pantas aja kalo papua mau merdeka trus…hmmm
    \

  19. 19 Anonymous Desember 18, 2012 pukul 1:12 pm

    rata” para pemimpin negara itu isi otaknya hanya uang. gak peduli negara sendiri mau tenggelam


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Info Citaka

*Bagi pengunjung yang akan memberi komentar, saran, dan kritik yang bersifat menghujat dan berpotensi sara akan kami edit, terima kasih

IDENTIFIKASI PENGUNJUNG

MY STATUS

Icak

Indy

Mien

Nelly

PENGUNJUNG ON LINE

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 189,685 Pengunjung

PENGUNJUNG TERAKHIR

DAPATKAN $ USD Dengan 1X Klik

http://adf.ly/97301/banner/www.google.com

BERITA BERITA TERBARU

Masukkan alamat Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 16 pengikut lainnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: