Penulis Darwis Sarkani
Anggota Tim Ekpedisi Latinanggo tahun 2000
Berada di ketinggian 1800 Mdpl,Gunung Latinanggo menyimpan misteri bagi Masyarakat Ulunggolaka dan Amorini bukan karena ketinggiannya melainkan adanya mitos yang berkembang di masyarakat akan ke angkeran Gunung Latinanggo.
Pertengahan Tahun 2000 se-kelompok pemuda yang beranggotakan Delapan personil mencoba untuk menguak tabir tentang mitos Gunung Latinanggo yang selama ini menghantui masyarakat, melakukan perjalanan untuk mencari tahu tentang sejarah yang tersembunyi mengenai Gunung Latinanggo.
Sang Kepala Dusunpun menjadi target pertama menjadi bahan pencarian Informasi tentang keberadaan Gunung tersebut hingga sampai kepada Sang Pemangku Adat untuk menguak sejarah Gunung Latinanggo.
Memang diantara cerita Masyarakat dan para pemangku Adat Keberadaan Gunung Latinanggo menyimpan berbagai cerita mistik karena puncak Gunung yang tiada henti diselimuti Kabut tebal tanpa mengenal musim,Latinanggo sendiri mempunyai Arti Khusus bagi Masyarakat dengan sebutan “dia (seorang putri) yang menunggu”.
Melakukan perjalanan menuju Puncak Gunung Latinanggo dengan medan yang sedikit menantang adrenalin bukanlah isapan jempol belaka,banyaknya rintangan seringkali menghambat perjalanan hingga membuat frustasi,namun semua itu terbayarkan ketika menyaksikan panorama Alam yang berada diketinggian,serta banyaknya Habitat Flora dan Fauna seakan menari menyambut sang tamu untuk membelainya.
Bentangan akar pohon serta Rotan dan rumpunan Pohon Bambu kecil yang menghiasi perjalanan membuat takjub para Anggota Tim Ekspedisi Latinanggo.
Jalur Seribu Pacet
Memasuki kawasan hutan yang lembab membuat perjalanan menuju puncak menjadi Daya Tarik tersendiri yang di dapat oleh para Anggota Tim Ekpedisi,jalur Seribu Pacet salah satu jalur yang menjadi perhatian serius yang harus dilewati dan menjadi dilema karena berbagai jenis pacet yang menyambut dengan suka cita siapapun yang melalui daerah pertahanan terakhir jalur Pacet.
Suguhan Sungai Konaweha yang membela di sepanjang Gugusan Pegunungan Latinanggo menjadi pemandangan menarik dengan kondisi Alam di sepanjang bantaran Sungai dengan bebatuan Hitam serta derasnya Arus yang mengilhami Manusia untuk berbuat suatu kegiatan petualangan Baru.
Perangkap Duri Rotan
Memasuki Lebih dalam wilayah hutan Pegunungan Latinanggo rumpun tanaman rotan menjadi kendala tersendiri yang harus dilalui,dengan kemiringan 40 – 45 derajat perangkap duri rotan dengan setia menanti siapapun yang melewatinya akan masuk dalam perangkap Alam yang terbentuk oleh kekuatan Alam itu sendiri.
Seakan terbawa Alam sadar melihat bentangan duri rotan yang menancap kokoh di setiap batang yang menjadi pegangan tangan dengan luasan hamparan yang harus dilewati membuat debar jantung semakin terpacu untuk segera mengakhiri dengan penuh kehati-hatian.
Celah tebing datar yang sempit menjadi tumpuan terakhir perjalanan untuk menghindari rimbunnya pepohonan serta rapatnya kontur gunung untuk mencapai titik klimaks pendakian.
Hamparan karpet Hijau
Sepanjang perjalanan menuju puncak,hamparan Karpet Hijau bentukan Alam menemani perjalanan hingga membuat terpesona dengan pemandangan Alam yang begitu menakjubkan,ratusan Anggrek yang bergelantungan di batang-batang pohon serta lautan biru yang menambah Indahnya puncak Latinanggo,rasa letih dan lelah terbayarkan oleh Indahnya Ciptaan Yang Maha Kuasa.
Tim Ekspedisi Latinanggo 2000
Rahim (Koordinator),Darwis sarkani (Anggota), Atto (Anggota), Erwin Wardi (Anggota), Enonk(Anggota), Sainal Abidin (Anggota), Adhy(Anggota), Dedy Neo (Anggota)




















0 Tanggapan ke “Latinanggo Negeri di Awan”