Jangan Biarkan Bumi Mekongga Merana

Jangan Biarkan Bumi Mekongga Merana

(0leh:YUNIASRI)

Bukan sulap bukan sihir, satu persatu gundukan tanah raksasa di Kolaka, menghilang. Dapat diperkirakan beberapa tahun kedepan pegunungan dan pulu-pulau kecil Kolaka akan lenyap dan menyisakan kubangan-kubangan, akibat penambangan nikel (nickel), yang dilakukan puluhan pengusaha tambang. Apakah bumi Mekongga akan dibiarkan terus dieksplorasi?

Awal Januari. Raungan mesin alat berat terdengar di beberapa titik lokasi pertambangan nickel Pomalaa. Mesin raksasa itu setiap detik menggerogoti dan mengobrak-abrik konstruksi tanah. Menggali dan memisahkan tanah untuk mencari kandungan nickel (ore). Ada 10 izin kuasa pertambangan (KP) yang dikelurkan Pemerintah Kabupaten Kolaka, selain PT Aneka Tambang. Yakni, PT Pertambangan Bumi Indonesia, PT Rinjani Angkawijaya Lestari, PT Putra Mekongga Sejahtera, PT Dharma Bumi Kendari, PT Toshida Indonesia, PT Cinta Jaya, PT Dharma Rosadi Internasional, PT Citra Arya Sentra Hutama, PT Bola Dunia Mandiri dan Perusahaan Daerah.

Dari atas bukit berketinggian 120 meter di atas permukaan laut, salah satu titik lokasi penambangan milik PT Aneka Tambang, kita dapat menyaksikan bentangan alam yang telah berubah warna. Birunya laut berubah warna menjadi kemerahan (keruh), akibat erosi. Pulau-pulau kecil yang dulunya hijau kini menyembulkan warna tanah. Di bawah di tepi, truk-truk hilir mundik mengangkut hasil tambang dari lokasi penambangan ke kapal-kapal pengangkut di pelabuhan, yang berbetuk huruf �T�. Debu jalanan, yang menimbun laut, mengiringi lajunya truk-truk bermuatan penuh.
Dikatakan Dodi Martimbang, Deputy Senior Vice Presiden Human Resources and General Affairs Antam, tahun 2005, PT Antam pernah mengganti kerusakan rumput laut nelayan Rp 800 juta akibat keruhnya air laut. Namun Antam menolak tuduhan penyebab rusaknya rumput laut dan ekosistem lain di pantai Tambea. Katanya, Antam memiliki saluran pembuangan limbah dan kolam penampungan. Antam juga peduli terhadap rehabilitasi lingkungan. Penghijauan kembali dilakukan di bekas-bekas galian nickel dan penanaman pohon mangrove.
Lalu perusahaan mana yang mesti bertanggung jawab? Tahun 2007 akhir, Bupati Kolaka, Bukhari Matta telah mengeluarkan 10 izin kuasa pertambangan (KP). Tujuannya, meraup keuntungan daerah bak tukang sulap. Alasannya, bermitra dengan PT Antam tak dapat diandalkan. Sebagai Badan Umum Milik Negara (BUMN), distribusi Antam dikendalikan undang-undang. Antam bertanggungjawab pada seluruh wilayah Indonesia bukan hanya pada Pomalaa.

�Sebagai BUMN, 100 persen hasil bumi kembali ke republik Indonesia,� kata Dodi Martimbang.
Dari tahun 1999, Antam telah memenuhi kewajiban, mulai dari PPN, royalti, PBB, pajak kendaraan AB dan ringan dan restribusi daerah secara rutin ke kas negara. Pajak yang dibayar tahun 1999 Rp 16,035,359 miliar dan tahun 2007 naik menjadi
� Rp 95,391,305 miliar.� Selain itu, Antam juga memberikan bantuan untuk bina lingkungan yang dilaksanakan tahun 2006-2007.
Awalnya PT Antam berupa konsensi tambang yang dimulai dengan usaha kecil sekelompok orang Jepang. Tahun 1970-an, konsensi itu melebar ke Cepu dengan sasaran emas, Ternate, Pomalaa-Kolaka dengan sasaran nikel.
�F eronikel Pomalaa menjadi andalan PT Antam.�Dalam menjalani usahanya, pada tahun 2003-2004 PT Antam menggandeng PT International Nickel Indonesia (INCO) tbk. Diperkirakan cadangan nickel Pomala saat ini tinggal 5 juta matrik ton atau cukup hingga 5 tahun ke depan lagi. Pangsa pasarnya PT Antam ke Eropa, Korea, Jepan, Taiwan, India dan China.
Menurut Dodi Martimbang, masih ada jalan untuk memperbaiki hubungan antara Antam dan Pemerintah Daerah Setempat, terkait kontribusi.
�Jalan satu-satuya, undang-undang diperbaharui,� katanya.
Apakah itu menjamin perbaikan perekonomian? Ada sebuah fenomena menggelitik yang para ahli ekonomi menyebutnya
�kutukan sumber daya alam.� Rata-rata Negara kaya sumber daya alam memiliki performa lebih buruk ketimbang Negara dengan anugerah sumber daya alam yang lebih sedikit. Penggiat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Siti Maemunah, Koordinator Nasional Jaringan Tambang mengatakan, �daerah mana yang penduduknya kaya karena pertambangan, yang ada justru pemiskinan, tukasnya.
Disebutkan, Aceh yang terkenal dengan pertambangan batu baranya, kemiskinan tetap terjadi. Papua yang dikenal dengan penambangan emasnya. Lapindo? Itu hanya menguntungkan pihak tertentu. Masyarakat setempat hanya merasakan efeknya. Indonesia penghasil batu bara, pemadaman listrik terjadi dimana-mana. Indonesia penghasil minyak bumi, tapi krisis minyak.
Sekarang, Kolaka menjadi ladang nickel. Lalu siapa yang akan bertanggungjawab terhadap warisan kerusakan Pomalaa pasca Antam dan 10 perusahaan pemegang KP? Pemerintah pusat yang menerima banyak dana dari ekspor nickel, pemerintah daerah yang melegalkan KP-KP atau warga setempat?
Dikatakan Siti Maemunah, boleh-boleh saja penambangan dilakukan, asal sesuai kebutuhan. Tidak membuka ladang di setiap jengkal tanah republik ini. Alangkah bijaknya apabila penambangan sebagai alternative terakhir, ketika Negara atau daerah tidak ada pilihan lain. Karena kekayaan alam itu tidak akan hilang meski tidak dimanfaatkan.
Pesan Siti Maemunah, buruknya efek penambangan mestinya menjadi pelajaran bagi daerah lain yang belum terjamah. ***

6 Responses to “Jangan Biarkan Bumi Mekongga Merana”


  1. 1 Nelly Mei 4, 2008 pukul 8:56 pm

    Sorry bang..saya sedikit menanggapi beberapa tulisan
    yang memuat opini tentang kemiskinan atau bumi mekongga yang merana karena pertambangan..

    sebenarnya begini, menurut saya, kita jangan melihat hal tersebut dari satu sisi saja..coba teman-teman juga berada pda bagian masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari bekerja dibidang pertambangan..mungkin dan pasti juga mereka akan berteriak jika mereka kehilangan penghasilan. dan malah jadinya masyarakat kita menjadi tambah miskin.

    juga tentang bumi yang merana, menurut saya, jika pengusaha menambang dengn menggunakan metode penambangan yang sesuai prosedur dan tahapan yang benar, saya kira tidak akan ada yang merana..apalagi jika upaya reklamasi yang dilakukan purna tambang sesuai dengan proseudr, saya kira kita bisa terima. asalkan jgn ditinggal begitu saja.

    yang masalah, jika kita punya kandungan mineral didalam bumi jika tidak kita olah untuk kemaslahatan umat, kan juga percuma Tuhan kasi kekayaan alam kalo tidak diolah?? toh semua itu untuk pembangunan daaerah dan pengembangan Bumi kita. yang salah kalo hasilnya hanya dirasakan oleh sebagian orang saja, nah itu yang parah…

  2. 2 Anonim November 7, 2008 pukul 3:58 pm

    Sbenarnya kontribusi Antam cukup besar, tapi Antam tentunya tdk punya kuasa utk membangun wilayah Pomalaa & sekitarnya, yang ada malah Antam harus nyetor ke Pemda..yg ujung2nya gak tau kemana.

    Lagian orang yg tidak menggantungkan hidupnya di dunia pertambangan akan s lalu melihat sinis…sorry2 nih ya…untuk apa Tuhan menciptakan kekayaan alam kalau kita hanya mendiamkannya saja, bukankah kita diberikan otak utk berpikir mengelolah kekayaan alam ini, dibuka jurusan kuliah pertambangan dan geologi.

    Daripada hanya mencari kesalahan, sebaiknya LSM mendata apa2 sj kerugian yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan, karena mustahil bin mustahal kalau ada penambangan lantas tdk ada kerusakan. Yg perlu dipikirkan, LSM melakukan kajian, lantas mengajukan ke Antam utk memperbaiki atau paling tidak memindahkan orang2 yg dirugikan.

    Adapun dana yg diserahkan ke Pemda jgn bgt saja diserahkan, dan ini utk semua tambang. Mumpung pembayaran tsb berangsur/ tdk skaligus, dalam pencaitannya , sekian persen langsung dialokasikan utk perbaikan jalan atau pembangunan prasarana dan smacamnya. Coba lihat, sekolah & rumah sakit Antam bagus kok, itu krn dikelolah dgn benar, NO KORUPSI !!!! kayak dipemerintahan. Tapi jgn sampai dana utk pembangunan itu jg diselewengkan, termasuk..sorry nih ya…LSM kl sdh dikasih dana utk proyek pembangunan daerah dimakan juga…(tapi tdk semua juga sih…masih banyak LSM yg konsen & independent)

    Mohon maaf, kami yang dibesarkan oleh perusahaan2 tambang bisa jadi orang jg karena makan dr ‘tanah’ tsb.

  3. 3 Fachrudin Desember 5, 2008 pukul 3:28 pm

    Ya sy tau daerah di Sulawesi ternggara memang indah sebelum adaNya
    ekplorasi tambang terutama tambang nikel.
    SAYA HARAP BPK2 YG ADA DI PEMDA KOLAKAN DAN SEKITARNYA TANGGAP ATAS
    TERJADINYA KERUSAKAN DAERAH. TERUTAMA AWASI PERUSAHAN TAMBANG SWASTA
    YG MENG EKSPLORASI …………. *** pbikendari -> hrs di awasi

  4. 4 korps citaka Desember 5, 2008 pukul 7:13 pm

    Terima Kasih telah membantu kamj mengingatkan PARA PENGAMBIL KEBIJAKAN tentang pentingnya arti sebuah KELESTARIAN.
    Kami juga berharap anda dapat menerapkan Hal itu dimanapun anda berada.

    Thanks
    Korps Citaka Indonesia

  5. 5 darwan Maret 10, 2010 pukul 7:42 pm

    10 KUASA PERTAMBANGAN(KP)DI TANH MEKONGGA KINI TDK PRIHATIN DGN KELESTERIAN ALAM…….KETIKA HJN DTG LAUT DAN JALAN UMUM HANCUR SEMUA …….

  6. 6 hadi Juni 10, 2014 pukul 1:32 pm

    seharusnya perkebunan saja.. kalau tambang memang menjadi penghancur.. memang perkebunan juga secara tdk langsung merusak habitat atau ekosistem namun setidaknya bumi ini tetap hijau dan paru2 dunia terjaga dan ekonomi masyarakat tetap berkembang dan meningkatkan taraf hidup masyarakat desa jangan hanya orang kota saja yg hidup enak

    seebb


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s







Info Citaka

*Bagi pengunjung yang akan memberi komentar, saran, dan kritik yang bersifat menghujat dan berpotensi sara akan kami edit, terima kasih

IDENTIFIKASI PENGUNJUNG

MY STATUS

Icak

Indy

Mien

Nelly

PENGUNJUNG ON LINE

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 271,191 Pengunjung

PENGUNJUNG TERAKHIR

DAPATKAN $ USD Dengan 1X Klik

http://adf.ly/97301/banner/www.google.com

BERITA BERITA TERBARU

Masukkan alamat Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 16 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: