Ketika Perut Bumi Habis Terkuras

Ketika Perut Bumi Habis Terkuras

Akan menjadi apakah nasib Bumi kedepan??

SALAH satu kekayaan sumber daya alam dari hasil bumi Pulau Bintan, di Kecamatan Kijang, Kabupaten Kepulauan Riau, adalah pertambangan bauksit. Jumlahnya melimpah ruah dengan kualitas terbaik di dunia.

Pengeksploitasian bauksit dari perut bumi Pulau Bintan yang dimulai sejak tahun 1935 hingga 2002 itu sudah menguras habis sebanyak 46.451.312 ton, dengan ekspor 45.127.911 ton. Berdasarkan catatan PT Aneka Tambang (Antam), sejak tahun 1970, ekspor bauksit per tahun mencapai 1 juta ton. Setiap bulan sedikitnya 12 juta dollar AS dihasilkan dari ekspor biji bauksit ke Jepang dan Cina.

Pihak pertama yang memanfaatkan tambang bauksit adalah perusahaan Belanda, NV Nibem, dari tahun 1935 sampai 1942. Pada tahun 1942 sampai 1945, usaha ini diambil alih Jepang melalui perusahaan Furukawa Co Ltd. Namun, pada tahun 1945 hingga 1959, usaha ini kembali ditangani NV Nibem, hingga akhirnya diambil alih Pemerintah Republik Indonesia dan dikelola PT Antam pada 1968 hingga sekarang.

Setelah hasil bumi bauksit tersebut dikuras selama 67 tahun, kini yang tersisa dari semua itu adalah bongkahan-bongkahan bekas penggalian bauksit. Bongkahan- bongkahan itu terlihat jelas di sekitar Kijang, terutama di tiga tempat kawasan penambangan, yaitu Pari, Wacopek, dan Lomesa.

Belakangan, luas areal penambangan bauksit di Kijang diperluas menjadi 8.327,11 hektar, dari sebelumnya 6.454,25 hektar. Perluasan itu didasarkan Surat Keputusan Menteri Pertambangan Nomor 2437.K/2014/MPE/1997 tanggal 11 Desember 1997.

Di kawasan Tanjung Pinang Timur, bekas lahan penambangan dijadikan kawasan bisnis Bintan Center, dengan didirikannya pusat pertokoan dan permukiman. Kemudian, di kawasan Kilometer 8, didirikan pula Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik Raja Haji Fisabilillah, Sekolah Menengah Kejuruan Raja Haji, dan Gedung Balai Wartawan Raja Ali Kelana.

“Tapi itu belum setimpal dengan apa yang sudah diambil dari perut bumi Pulau Bintan ini, khususnya di Kijang,” kata Yasman Andika, tokoh pemuda di kawasan Kijang.

Memang, PT Antam telah memberikan community development kepada warga, berupa pinjaman lunak kredit usaha, bantuan peralatan olahraga, peralatan sekolah, dan pembukaan jalan di sekitar lokasi penambangan. Akan tetapi, bantuan berupa uang kepada masyarakat sekitar hanya bersifat konsumtif. Belum ada bantuan yang diberikan kepada warga untuk membangun perekonomian masyarakat secara konkret, yang dapat menampung tenaga kerja secara berkesinambungan.

Hal senada dikemukakan M Sahat (45). “Janganlah sisa-sisa bongkahan dari penambangan menjadi hantu bagi masyarakat. Habis manis, sepah dibuang. Kalau benar- benar PT Antam punya komitmen, marilah duduk bersama warga, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Riau (Kepri), untuk membicarakan apa sesungguhnya keinginan warga,” ungkap Sahat, yang orangtuanya pensiunan PT Antam.

KEPALA Pascapenambangan PT Antam Darwis Erwin membantah bahwa PT Antam tak memperhatikan warga sekitar Kijang pascapenambangan bauksit. PT Antam sendiri, pascapenambangan bauksit, sudah punya rencana terhadap sisa-sisa lahan penambangan, seperti pembukaan pelabuhan peti kemas, tempat doking kapal, pencucian kapal tanker, dan kawasan industri maritim.

“Investor Singapura dan Malaysia sudah datang ke PT Antam untuk menjajaki kemungkinan berinvestasi dalam pencucian kapal tanker. Peluang ini tentu harus kita manfaatkan segera. Tapi, tentu saja peluang investasi ini berjangkauan masa depan sehingga tidak bisa langsung dinikmati masyarakat,” ujarnya.

Soal sumbangan PT Antam kepada daerah, Darwis mengatakan, setiap tahun sumbangan yang diberikan bukan hanya untuk membayar kewajiban, berupa retribusi dan pajak bumi bangunan, tetapi juga royalti dari hasil ekspor. Di lain pihak, PT Antam juga memberikan bantuan sosial kemasyarakatan untuk masjid, peringatan atau perayaan-perayaan keagamaan, dan hari nasional.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Kepri Karya Harmawan mengatakan, izin PT Antam pada Januari 2003 sudah habis dan lalu diperpanjang sampai tahun 2005. Setelah itu, Pemerintah Kabupaten Kepri akan membentuk tim untuk menginventarisasi sisa-sisa penambangan PT Antam. Bisa saja nantinya PT Antam, melalui yayasannya, dilibatkan untuk menentukan langkah-langkah pascapenambangan.

Tentang bantuan yang diperoleh daerah dari PT Antam, Karya menjelaskan, mereka menerima royalti atas ekspor sebesar Rp 4 miliar sampai Rp 4,5 miliar per tahun. Itu tidak termasuk retribusi dan pajak bumi dan bangunan. Perut bumi Pulau Bintan telah terkuras habis, janganlah sisa persoalannya ditanggung rakyat di Kepulauan Riau.

Apakah ANTAM Pomalaa akan berbuat sama ????

Menunggu Hancur atau Melawan……..?

2 Responses to “Ketika Perut Bumi Habis Terkuras”


  1. 1 paisal Januari 21, 2011 pukul 10:05 am

    sudah begitulah sekarang untuk perkembangan perekonomian Kita…. karna dimana lagi kita mau mengolah untuk menghasilkan uang kalo bukan di bumi…. tapi kan ada yang namanya penghijauan kembali… jadi semoga dengan penghijauan kembali… Bumi ini terselamatkan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s







Info Citaka

*Bagi pengunjung yang akan memberi komentar, saran, dan kritik yang bersifat menghujat dan berpotensi sara akan kami edit, terima kasih

IDENTIFIKASI PENGUNJUNG

MY STATUS

Icak

Indy

Mien

Nelly

PENGUNJUNG ON LINE

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 271,495 Pengunjung

PENGUNJUNG TERAKHIR

DAPATKAN $ USD Dengan 1X Klik

http://adf.ly/97301/banner/www.google.com

BERITA BERITA TERBARU

Masukkan alamat Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 16 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: