Tambang dan Jamban

“Siram sampai bersih setelah anda menggunakan Jamban. Jika tidak mau berperilaku seperti perusahaan tambang!” Ungkapan dalam buku Collapse-nya Jared Diammond diatas sangat tepat menggambarkan perilaku perusahaan tambang skala besar di Indonesia diatas. Bagaikan melepas hajat ditempat orang, sekaligus mewariskan “bau tak sedap”; hingga “bibit penyakit” bagi orang disekitarnya.

Pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan, pemiskinan hingga pelanggaran HAM akibat salah urus sektor pertambangan dan migas semakin hari semakin mengemuka diberitakan banyak media. Mulai dari pertambangan skala besar sekaliber PT Freeport, Inco hingga tambang rakyat dan galian C. Tak cuma rakyat sekitar yang dirugikan, tetapi kedaulatan negara juga digerogoti oleh korporasi pertambangan skala besar.

Terbukti, sector pertambangan memiliki daya rusak yang tidak terpikirkan dan diingkari terus menerus oleh pemerintah sepanjang hampir empat dekade usia industri pertambangan di Indonesia. Dilokasi-lokasi pertambangan skala besar, berbagai aspek penghidupan rakyat mulai dari biofisik, sosial ekonomi, hingga politik menerima dampak seluruh mata rantai operasi tambang dan migas. Dan tidak pulih hingga perusahaan pergi dari lokasinya menambang.

Jika dihitung-hitung daya rusaknya, kontribusi sector pertambangan terhadap perekonomian negara semakin banyak dipertanyakan. Pendapatan diluar pajak yang hanya mencapai 3 trilyun sangatlah tidak siginifikan dengan pengerahan pelayanan yang disediakan pemerintah bagi pelaku pertambangan. Sampai-sampai “menggadaikan” nasib rakyat sekitar dan tanah air Indonesia.

Pencemara teluk Buyat, sungai Tiku, sungai Ajkwa, kepulauan Seribu, pertanian sawah dirapak lama, hingga tenggelamnya 8 desa di sekitar operasi Lapindo Brantas Pelanggaran HAM di pertambangan Newcrest, Rio Tinto dan Exxon Mobil harusnya membuka mata dan hati bangsa ini bahwa sector pertambangan dan migas harus dikaji ulang pengelolaannya. Agar tak lagi mengancam keselamatan rakyat dan pelayanan alam bagi penghidupan rakyat serta menggrogoti kedaulatan negara.

3 Responses to “Tambang dan Jamban”


  1. 1 amin November 20, 2008 pukul 1:09 pm

    Dampak Penambangan yang tidak dikelola dengan baik, sangat tepat dengan analogi Tambang dan Jambang. Bau tidak sedap dari jamban yang tidak disiram dengan baik setelah melepas hajat dapat berakibat buruk terhadap kesehatan demikian juga halnya dengan limbah dari akibat proses penambangan. Tapi masalahnya sekarang (maaf) Tinja yang dilepas itu dibiarkan terurai dengan sendirinya dan akhirnya baunya hilang, sementara untuk mengurai tinja tersebut dibutuhkan proses waktu jadi selama proses waktu itu berjalan maka selama itu pula bau tidak sedap tetap saja menyengat hidung, belum lagi tinja itu habis terurai sudah berminculan lagi tinja baru. Jadi harapan kita semua jangan ada lagi Implementasi Teori Terurai Dengan Sendirinya.

  2. 2 Nelly November 28, 2008 pukul 8:36 pm

    Jangan hanya mengkambing hitamkan pertambangan..ada beberapa hasil penelitian yang juga mengungkap penyebab dari kerusakan lingkungan..

    1. Pembukaan hutan oleh beberapa perusahaan perkebunan..didekat saya ber aktifitas, saya juga melihat mereka membuka hutan sampai satu gunung dirusak..

    2. ilegal logging yang terus terjadi..penebangan pohon yang tidak disertai dengan peremajaan..

    jadi..mari kita bersama-sama melihat bagaimana banyaknya hal-hal lain yang bisa mengakibatkan kerusakan lingkungan..

    juga mari kita lihat barang-barang dan benda yang kita pakai untuk kelangsungan hidup kita yang asalnya dari hasil kerjaan “pertambangan” jadi..mari kita berpikir secara rasional…jangan hanya bisa mengkambing hitamkan pertambangan..

    Salam hangat dari jauh..

  3. 3 cikal fathil qibran Juni 8, 2010 pukul 11:56 am

    jangan bimbang n ragu kawan:

    mandingan kita buat organisasi kita menjadi maju dulu n setelah maju kita pisah dari kota kolaka.

    kita hijrah ke daerah gunung mekongga buat istana di puncaknya, kita buat kota baru yang indah bisa lebih damai, tentram juga makmur.

    ceritanya gini, kitakan diatas puncak tertinggi sultra bisa lebih dekat lagi dengan sang pencipta, jadi kalau ada yang tidak jelas di kota kolaka kita minta aja tuh… burung ababil dari langit untuk kerja sama menghancurkannya, gimana toh……………..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s







Info Citaka

*Bagi pengunjung yang akan memberi komentar, saran, dan kritik yang bersifat menghujat dan berpotensi sara akan kami edit, terima kasih

IDENTIFIKASI PENGUNJUNG

MY STATUS

Icak

Indy

Mien

Nelly

PENGUNJUNG ON LINE

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 271,191 Pengunjung

PENGUNJUNG TERAKHIR

DAPATKAN $ USD Dengan 1X Klik

http://adf.ly/97301/banner/www.google.com

BERITA BERITA TERBARU

Masukkan alamat Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 16 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: