SELAMATKAN RAWA AOPA

Membaca Berita di Kompas hari Jum’at tanggal 5 Desember 2008 “TN Rawa Aopa Rusak”, benar-benar membuat miris dan kecewa dengan kenyataan yang terjadi. Dalam berita tersebut disampaikan bahwa ekosistem di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Sulawesi-Tenggara rusak akibat perambahan, penebangan liar dan rencana pembukaan tambang Nikel.
Dari berbagai tulisan-tulisan mengenai keaneka ragaman hayati yang ada di Rawa Aopa – Watumohai, tidak heran apabila kawasan ini di jadikan National Park. Mungkin yang perlu kita perjelas dalam hal ini adalah makna dari Taman Nasional (National Park) itu sendiri. Mungkin dengan cara ini kita bisa sadar bahwa secara philosophy, keberadaan dari area itu memang harus di jaga dan dilestarikan. Secara harafiah Taman Nasional bisa di deskripsikan sebagai ” Area yang dilestarikan, diumumkan sebagai area yang dilindungi oleh pemerintah, dan dilindungi dari kerusakan akibat pembangunan yang dilakukan oleh manusia dan dari ancaman pencemaran” (Terjemahan bebas dari Wikipedia).
Dari artinya sendiri, kita sudah bisa tau apa sebenarnya bentuk perlakuan kita terhadap kawasan Taman Nasional. Semua stakeholder terutama yang termasuk dalam definisi di atas, seharusnya lebih mengerti akan hal ini dibanding orang awam. Tetapi dengan kenyataan yang ada saat ini, peran pemerintah justru menjadi paradoks yang memalukan sekaligus memilukan. Apakah definisi Taman Nasional harus dimasukkan kedalam kurikulum pelajaran dulu untuk kemudian semua bisa mengerti.
Dengan kekayaan alam yang dan keaneka ragaman hayati yang ada di dalam Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, maka kawasan kita termasuk area yang ist imewa dan punya kekayaan yang melimpah. Untuk itu seharusnya ada rasa takut dan was-was apabila kekayaan itu terampas dan musnah karena tindakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Yang memanfaatkan dogma “asap dapur harus tetap mengepul” sehingga menjustifikasi tindakan tidak bertanggung jawab yang menimbulkan kerusakan yang tidak akan bisa di recovery lagi serta menjadi asal muasal timbulnya bencana alam di kawasan sekitar.
Sebagai anak daerah, kebanggaan terhadap wilayah konservasi Rawa Aopa Watumohai berakar kuat ketika pihak-pihak dari luar Sulawesi bahkan dari luar negeri secara khusus datang, menempuh jalur yang tidak bersahabat hanya untuk mengunjungi area tersebut. Kenapa justru penduduk dan pemerintah yang menjadi bagian dari area tersebut, tidak punya sense of belonging terhadap kawasan tersebut.
Berbagai informasi baik dari media elektronik maupun media cetak mengenai keanekaragaman ekosistem, flora dan fauna yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Rawa Aopa – Watumohai, sepertinya tidak menimbulkan rasa kagum dan rasa memiliki dari pemerintah dan masyarakat sekitarnya, bahkan tindakan eksploitasi semakin menjadi. Apakah dengan memanfaatkan dan mengeksploitasinya bisa membuat pemerintah daerah dan penduduk sekitarnya menjadi seorang milyuner? atau malah akan menjadi kelompok terasing yang menderita karena bencana alam dan kekeringan.

Untuk itu, kalau tidak dari sekarang kita bertindak, kapan lagi

2 Responses to “SELAMATKAN RAWA AOPA”


  1. 1 Nelly Desember 17, 2008 pukul 12:39 pm

    Beberapa bulan yang lalu, saya beserta beberapa orang teman jalan-jalan di puriala dan sekitarnya..waktu itu rencananya mau survey pendahuluan potensi nikel daerah tersebut. Tapi begitu saya masuk ke daerah Puriala, dan ternyata…daerah tersebut merupakan daerah TN Rawa Aopa..Saya hanya melakukan pengamatan fisik lokasi tersebut (namanya juga pendahuluan) saya sempat bertemu dengan jaga wana yag sedang berpatroli dan beberapa warga yang sedang melakukan penebangan pohon..Saya waktu itu langsung mengajak bapa-bapak tersebut cerita-cerita, tanya-tanya tentang daerah tersebut..sekalian menawarkan rokok dan minuman yg saya bawa, ternyata mereka melakukan itu semua karena tuntutan ekonomi..saya sedikit miris..lalu saya bandingkan kegiatan mereka dengan kegiatan survey yang saya lakukan, i think it’s the different..kegiatan pertambangan disertai dengan banyak aktifitas yang mendahului kegiatan eksplorasi dan eksploitasi, termasuk ijin-ijin, ada banyak rencana kegiatan pengelolalan lingkungan yang harus dipenuhi oleh pihak pengusaha..Olehnya itu..mungkin kita jangan hanya menyalahkan aktifitas eksplorasi dan eksploitasi tapi juga kita harus memperhatikan aktifitas pembukaan lahan untuk perkebunan..penebangan pohon..dan banyak lagi kegiatan dan aktifitas yang sifatnya illegal yang dilatarbelakangi oleh “TUNTUTUTAN EKONOMI”..itu semua demi kesejahteraan masyarakat..Agak susah mungkin untuk menyelesaikan permasalahan tersebut..Saya rasa mungkin masyarakat perlu sejahtera dulu semuanya baru masalah lingkungan, masalah kehutananan bisa dijawab dan kerusakan lingkungan dan alam bisa dihindari..Tapi siapa yang akan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat tersebut??? Pada hari itu juga, kegiatan survey langsung saya cancel..saya balik ke Dinas Pertambangan Konawe untuk merevisi koordinat yang ada.

    Itulah sedikit cerita dari Puriala..

    Salam

  2. 2 Rina September 2, 2009 pukul 10:06 am

    Saya sangat kecewa dengan pemerintah yang tidak bertindak tegas terhadap penambang liar di Rawa Aopa. Saya pernah ke Rawa Aopa th 1998 dan 1999 untuk penelitian masalah Aroweli (Mycteria cinerea) dan potensi ekonomi yang bisa dikembangkan tanpa mengganggu fungsi TN.
    Sejak br rencana ke TNRAW saya sdh jatuh cinta. Taman nasional ini letaknya di pulau yang unik di zona wallacea yang kaya keanekaragaan hayati, peralihan dari asia dan australia. Setelah menginjakkan kaki disana sy merasa tidak salah pilih. walaupun lokasi sangat jauh dr base camp sy (Jogja) tp sy tdk menyesal pergi ke TN RAW.
    Sampai saat ini sy msh sering kontak dengan teman2 eks pecinta alam di kendari, tapi mereka jg tdk bs berbuat banyak. ini memang bukan hal yang mudah. Tantangan untuk pemerintah, khususnya pemerintah pusat, karena pengelolaan Taman Nasional langsung dari pusat. Ayo teman2 di Dephut, tunjukkan komitmen kalian terhadap pelestarian alam.
    tentang masalah ekonomi, sy pikir tambang bukan pemecahan. Siapa yg menikmati hasil tambang? Apakah masyarakat yg kekurangan sekitar TN? Ataukah pendatang yg sudah mapan? Coba kita kaji lagi dengan hati nurani…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s







Info Citaka

*Bagi pengunjung yang akan memberi komentar, saran, dan kritik yang bersifat menghujat dan berpotensi sara akan kami edit, terima kasih

IDENTIFIKASI PENGUNJUNG

MY STATUS

Icak

Indy

Mien

Nelly

PENGUNJUNG ON LINE

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 271,495 Pengunjung

PENGUNJUNG TERAKHIR

DAPATKAN $ USD Dengan 1X Klik

http://adf.ly/97301/banner/www.google.com

BERITA BERITA TERBARU

Masukkan alamat Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 16 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: