EKSPEDISI LATIMOJONG ( 2005 )
Team JIP 2005
MENJADI MANUSIA TERTINGGI DI SULAWESI
Puncak Rante Mario adalah salah satu puncak di jajaran Pegunungan Latimojong yang merupakan puncak tertinggi di Pulau Sulawesi. Ketinggiannya mencapai 3,473 meter dari permukaan laut. Selain Puncak Rante Mario, terdapat pula puncak-puncak lain yang berbaris membentuk pegunungan Latimojong. Diantaranya yaitu Puncak rante kambola (3083), Puncak Nene Mori (3397 mdpl), Puncak latimojong (3305),puncak Pokah pinjang (2970) serta masih banyak puncak-puncak yang lain.

Puncak Latimojong

Mendaki puncak Rante Mario memberikan sebuah kepuasan dan kebanggaan tersendiri, karena dengan berada di atas puncak ini kita menjadi salah satu manusia yang tertinggi di pulau Sulawesi, selain itu kita dapat menikmati keindahan dan panorama khas alam Sulawesi. Menuju Puncak Rante mario terdapat beberapa pilihan jalur pendakian. Tapi kebanyakan para pendaki gunung memilih jalur dari Kampung Karangan sebagai Entry Point atau Base camp pendakian.
Karangan terletak tepat di kaki Pegunungan Latimojong bagian barat. Karangan adalah sebuah dusun di Desa Latimojong Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Propinsi Sulawesi Selatan. untuk mencapai kampung ini berikut rute yang dapat di gunakan:Jika kita berangkat dari kota Makassar Ibu kota Propinsi Sulawesi Selatan, kita dapat menggunakan jalur darat dari Terminal Daya dengan menumpang pada angkutan darat antar kabupaten menuju kota Enrekang. Jenis Sarana angkutan ini adalah mobil Bus ataupun mini bus dan mobil sejenis Kijang dan Panther. Harga sewa perorang adalah 30.000 Rupiah. Waktu tempuh sekitar 7 jam dengan jarak ± 200 Kilo Meter. Setelah itu kita dapat melanjutkan perjalanan menuju Kampung Buntu Dea yang berjarak sekitar 20 Km dari kota Enrekang. Sarana angkutan menuju kampung Buntu Dea adalah dengan menggunakan Jeep Sewaan ataupun Truk Sewaan, karena hanya kendaraan jenis ini yang dapat mencapai kampong Buntu Dea yang belum di aspal. Harga sewa angkutan ini berkisar 15.000 per orang. Setelah tiba di Buntu Dea kita dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Kuda sewaan ataupun berjalan kaki menuju Kampung Karangan, karena sarana jalan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau berkuda.

( Info Titik Koordinat Gunung Latimojong )

Dari Buntu Dea kita sudah dapat melihat secara jelas jajaran Pegunungan Latimojong yang selalu diselimuti kabut tebal. Sebelum mencapai Kampung Karangan dari Buntu dea kita melewati pula sebuah Kampung yaitu dusun Rante Lemo. Kondisi jalur menuju kampung karangan dari Buntu Dea adalah menanjak dan menurun, hal ini dikarenakan kita sudah berada di ketinggian sekitar 1500 mdpl. Bagi para pendaki gunung jalur ini merupakan start awal yang baik sebagai bagian dari penyesuaian kondisi fisik dengan alam yang baru atau disebut aktimalisasi. Disepanjang jalur kita dapat menikmati keindahan alam kaki gunung dengan keramahan penduduknya serta bentangan ladang dan sawah-sawah penduduk. Sampai di kampung Karangan,kita dapat menumpang di salah satu rumah penduduk ataupun di rumah Kepala Dusun sebagai base camp atau tempat menginap sebelum menuju puncak tanpa membayar sewa, karena penduduk di kampung ini sangat ramah dan senang jika rumahnya dijadikan Base Camp bagi para pendaki gunung.
Sebagai puncak tertinggi di Sulawesi Puncak Rante Mario menyimpan banyak keunikan seperti terdapatnya hewan endemic pulau sulawesi yaitu anoa, berbagai jenis anggrek, berbagai jenis burung serta bunga abadi edelweis, tak heran banyak pendaki gunung dari seluruh Indonesia yang mendambakan untuk menginjakan kakinya di puncak tertinggi Sulawesi ini.
Siang itu, 23 April 2005 Rombongan kami tiba di terminal Daya Makassar. Kami berjumlah lima orang yang tergabung dalam Team Jelajah Ilmiah Pemuda ( JIP 05 ) Korps Pencinta Alam Kolaka (Korps Citaka Indonesia) dari Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara. Kami kemudian di jemput oleh rekan-rekan dari Team JIP yang sebelumnya sudah berada di Makassar untuk mempersiapkan segalanya sesuatunya.. Team JIP 05 berencana melakukan pendakian di puncak rante Mario dengan misi penelitian terhadap beberapa aspek di wilayah Pegunungan Latimojong. Diantaranya pendataan sosial budaya penduduk kaki gunung dan hal-hal yang menyangkut kondisi alam pegunungan latimojong.
Mencapai puncak rante Mario dibutuhkan persiapan dan perencanaan yang matang baik itu fisik, mental dan perlengkapan. Selama seharian penuh di Makassar Team Kami kemudian melengkapi peralatan, ransum dan perlengkapan agar misi dan pendakian kami berjalan lancar. Minggu Malam pukul 19.00, 24 April 2005 kami kemudian berangkat menuju kota Enrekang. Keseluruhan personil berjumlah 10 orang yaitu 5 personil Team JIP Kolaka : Nelly Patiung, ST sebagai Koordinator Team.,Ridwan Suddin (undo), Muh. Ilham Syarifuddin, SE, Mardin Sarkam, Budiono Rahman dan 5 personil JIP Makassar: Mirwanto Muda,S.S, Indrawan Muda,ST, Zainal M. S.Ap, Andriadin,S.Sos,serta Milawati S.S,M.Pd.

TRUK

Sekitar pukul satu dini hari kami tiba di kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang dan menumpang di salah satu rumah teman yang telah dikontak sebelumnya. Kemudian pada pagi harinya dengan menumpang pada truk sewaan kami menuju Buntu Dea yang kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Kampung Karangan. Dikampung ini kami kemudian melakukan sosialisasi dengan penduduk setempat dan mengambil data. Pagi harinya kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncak. Jalur pendakian sangat jelas sehingga perjalanan kami tidak terhambat namun demikian kami sudah disuguhi dengan pendakian yang cukup menguras tenaga karena kemiringan medan 45º – 65 º, hanya sesekali bonus (tanah datar).Memang jika dilihat dari peta tofografi, kontur-konturnya sangat rapat yang artinya kemiringan medan sangat terjal, sehingga beberapa kali kami beristrahat di Pos-Pos pendakian yang di patok oleh para pendaki gunung sebelumnya dan kami menggunakan kesempatan ini melakukan pengamatan dan pendataan baik itu fauna,flora ,suhu,keadaan batuan dan kondisi alam lainnya. Terdapat 8 Pos pendakian untuk sampai ke puncak Rante Mario. Sekitar pukul 17.30 kami tiba di Pos 7 dan kemudian mendirikan tenda sebagai Camp 1. Pada malam harinya suhu di sekitar Camp 1 ini mencapai 4-5 ºC, suhu yang sangat dingin, hal ini di karenakan ketinggian didaerah ini sudah mencapai 3000 mdpl. Pada siang harinya kami melakukan pendataan di sekitar Camp. Di camp ini terdapat sungai yang menjadi sumber air bagi para pendaki gunung. Pos 7 memang sudah menjadi Camp bagi para pendaki karena selain sumber air yang dekat suasana ditempat ini sangat indah. Dari sini kita dapat melihat dengan jelas puncak Nene Mori dan puncak-puncak yang lain. Dari tempat ini pula kita dapat melihat dengan jelas hamparan bukit-bukit bentangan pegunungan Latimojong yang sangat indah, dan dimalam harinya kita dapat menikmati pemandangan lampu-lampu kota Enrekang dan sekitarnya laksana kunang-kunang yang sedang berbaris.
Setelah cukup melakukan pengamatan dan pendataan kami kemudian packing peralatan dan melanjutkan perjalanan menuju puncak Rante Mario. Sekitar pukul 13.00 kami tiba di puncak tertinggi Sulawesi. Di puncak ini berdiri tegak Triangulasi (tugu puncak) setinggi 1,5 meter yang dibuat permanen oleh mahasisiwa Univ. 45 yang melakukan Kuliah Kerja Nyata di Kampung Karangan beberapa tahun yang lalu. Di ketinggian ini kami di suguhkan pemandangan alam yang begitu memukau dan mengingatkan kami akan kebesaran Pencipta-Nya. Di tempat ini kami sempat berkomunikasi dengan manajer tim di Kab. Kolaka Abd. Rahim yang akrab dipanggil Bang Icak lewat ponsel, karena di tempat ini terdapat signal salah jatu jaringan telepon seluler. Dengan mencapai puncak Rante Mario kita menjadi manusia tertinggi di Sulawesi. Walaupun demikian, ini tak bisa di sombongkan, karena dari ketinggian ini kita akan sadar bahwa kita adalah bagian terkecil dari seluruh alam ini. Setelah cukup menikmati puncak dan melakukan pendataan serta pengambilan gambar,kami kemudian turun dan Camp di antara Pos 8 – 7 di tempat yang dinamakan Batu Bolong yang dalam bahasa Indonesia artinya batu hitam. Di sekitar ini batuan-batuannya rata-rata berwarna hitam yang merupakan sebaran batuan metamorf. Di Camp ini terdapat sebuah lapangan yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Disekitar Camp ini pula terdapat Stasiun Relay radio komunikasi milik TNI. Namun sayang stasiun sudah tidak terpelihara dan sudah dirusak oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Hanya tersisa sebuah bagunan yang berukuran sekitar 2×1,5 m yang berdiding dan beratap seng serta 2 buah tiang antenne dari pipa berdiameter sebesar tiang listrik setinggi 5 m, sedang antenna, radio komunikasi serta battrei accu telah menjadi puing-puing dan lenyap. Memang di tempat ini sangat baik untuk komunikasi lewat radio panggil, Team sempat berkomunikasi dengan pengguna radio amatir yang berada di kota Makassar, Gowa, Palopo, Enrekang dan sekitarnya bahkan Team sempat berkomunikasi dengan salah seorang pengguna radio amatir dai kab. Kolaka lewat Handy Talky dengan menggunakan antene Larsen.
Selama 2 hari Team berada di ketinggian > 3000 mdpl, melakukan pendataan dan pengamatan. Banyak keunikan dan pesona pegunungan Latimojong yang tidak di temukan di tempat lain, keramahan penduduk kaki gunungnya, pesona puncak-puncak dan keindahan alamnya yang menyimpan berbagai misteri serta setiap orang yang mendakinya akan timbul kerinduan untuk menggapainya lagi.





Info Citaka

*Bagi pengunjung yang akan memberi komentar, saran, dan kritik yang bersifat menghujat dan berpotensi sara akan kami edit, terima kasih

IDENTIFIKASI PENGUNJUNG

MY STATUS

Icak

Indy

Mien

Nelly

PENGUNJUNG ON LINE

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 271,495 Pengunjung

PENGUNJUNG TERAKHIR

DAPATKAN $ USD Dengan 1X Klik

http://adf.ly/97301/banner/www.google.com

BERITA BERITA TERBARU

Masukkan alamat Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 16 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: