Kegiatan pendakian beliau bersama tim dimulai pada tanggal 27 November 2006 sampai dengan tanggal 1 Desember 2006. Pada tanggal 27 Nov, di kota Surabaya beliau dijemput oleh tim JIP, lalu menuju kota Malang. Di Malang, kemudian tim mepersiapkan segala perlengkapan pendakian mulai lari logistik sampai peralatan lainnya yang dibutuhkan. Setelah itu barulah Tim menuju Kec. Tumpang di Pos Pelayanan Pendaki Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Di Pos ini Tim sempat kecewa karena dari pengumuman yang tertera di papan informasi bahwa kegiatan pendakian ditutup untuk sementara mengingat masih dilakukannya kegiatan pencarian atau SAR terhadap Dian Susanto Mahasiwa Pecinta Alam Universitas Jember yang hilang di gunung tersebut.
Berdasarkan informasi, hilangnya para pendaki gunung di Semeru sering terjadi di karena kondisi alam gunung ini memang ekstrim apalagi gunung Semeru dengan puncak Mahameru mempunyai ketinggian 3.676 m.dpl. atau puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa tergolong gunung yang masih aktif dengan ditandai masih seringnya mengeluarkan gas dan asap tebal yang setiap saat berbahaya bagi para pendaki dan biasanya dibarengi dengan semburan pasir vulkanis. Di gunung ini pulalah 16 Desember 1969, Soe Hoek Gie bersama rekannya Idham lubis, aktivis Mapala UI menghembuskan napasnya di puncak Mahameru karena gas bercun dari gunung ini.
Untunglah tim diizinkan untuk mendaki gunung ini setelah mendapat restu dari kepala BKSDA Malang yang kebetulan sedang melakukan kunjungan di kec. Tumpang dan dari informasi petugas pos di Tumpang bahwa Dian Susanto yang hilang di gunung ini telah ditemukan sehari yang lalu. Hari itu juga tim kemudaian menuju Ranu Pani desa terakhir di kaki gunung dengan menyewa mobil jeep.
Tanggal 28 November 2006, tim kemudin memulai pendakian dari desa ini setelah mendapat tiket masuk dan surat izin pendakian di Pos Ranu Pani. Selama dua hari Tim melakukan tracking (berjalan kaki) melewati rute pendakian (Desa Ranu Pani – Danau Ranu Kumbolo – Padang Savana Oro-Oro Ombo – Kali Mati – Puncak Arcopodo – Puncak Mahameru ) dengan berbagai suguhan panorama alam pegunungan yang indah, sehingga sangatlah bijak jika kawasan ini termasuk kawasan yang dilindungi. Gunung Semeru termasuk kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger Semeru yaitu kawasan Cagar Alam di daerah perbatasan antara empat kabupaten di Jawa Timur, yaitu kabupaten Malang, Probolinggo, Lumajang dan Pasuruan.
Disela-sela perjalanan yang cukup melelahkan, Bang Udin mengingatkan Tim untuk tidak melupakan tujuan kegiatan yaitu pendataan dan studi pengelolaan potensi ekowisata pegunungan agar hasil dari kegiatan ini menjadi bahan bagi pengelolaan Kegiatan Alam Terbuka yang berpontesi ekonomi dan pariwisata di Kabupaten Kolaka yang berpeluang untuk di kembangkan. Selain itu beliau juga sering bercanda untuk memberi semangat pada Tim dan juga melakukan aktivitas kerjasama tim seperti mendirikan tenda, berdiskusi dan aktivitas pendakian lainnya yang membutuhkan kerjasama tanpa memasang ego sebagai seorang pejabat.
Saat-saat yang sangat mengharukan bagi beliau adalah ketika berada di puncak Mahameru pada hari Kamis 30 november 2006, karena setelah berjuang selama empat jam dari pukul dua dini hari sampai pukul enam pagi, barulah mencapai puncak. Betapa tidak, Beliau yang telah berumur empat puluh tahun mampu menembus dinginnya hawa pegunungan yang menusuk tulang, menapaki kemiringan medan yang cukup terjal dan disertai pijakan berpasir serta gelapnya malam. Dengan teriring doa dan semangat berjuang beliau melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah menujun puncak. Dan perjuangan belaiau tersebut membuatnya menjadi Anggota Dewan pertama di Kabupaten Kolaka yang berhasil mencapai puncak Mahameru.
waka2
Berada di atas puncak Mahameru beliau mengucapkan syukur pada Ilahi yang telah memberinya kekuatan dan kesempatan menggapainya yang sudah diidam-idamkannya sejak SMA dulu. Bagi Bang Udin berada di atas puncak Mahameru berarti kita menjadi manusia tertinggi di pulau Jawa, namun jiwa kita juga akan sadar bahwa kita adalah bagian terkecil dari seluruh alam ciptaa-Nya.
Di atas puncak Mahameru kita dapat melihat beberapa gunung yang ada di Jawa Timur yang masih merupakan satu gugusan dengan gunung Semeru, seperti gunung Bromo dengan kawahnya yang masih mengeluarkan asap.Di puncak inipula kita dapat menjumpai monumen-monumen kecil tempat tewasnya beberapa pendaki gunung, seperti monumen Soe Hoek Gie, seakan mengingatkan kita bahwa betapa berbahayanya mendaki gunung ini. Dan yang sangat mengesankan di tempat ini kita dapat melihat secara lansung dari jarak dekat kawah Jongring Saloka gunung Semeru yang mengeluarkan asap tebal dan disertai debu vulkanisnya, hanya saja kita tidak diperbolehkan berlama-lama di tempat ini karena gas bercunnya sangat berbahaya.
Setelah kurang lebih satu jam berada di atas puncak tim akhirnya turun. Dan melanjutkan perjalanan ke Desa terakhir Ranu Pani. Di Ranu Pani tim kemudian mengambil beberapa data-data di Puat informasi Taman Nasional Bromo Tengger yang ada di Desa ini. Esok harinya kemudian Tim menuju kota Malang untuk mempersiapkan agenda pulang ke Kolaka. Kepada redaksi yang telah memuat catatan singkat ini kami ucapakan terima kasih, semoga menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa menjadi pejabat bukan berarti tidak bersahabat dengan alam berserta isinya. Terima kasih pula kepada ”Bang Udin” semoga jiwa dan semangat mencapai puncak Mahameru dapat dipertahannkan untuk mencapai puncak prestasi di bumi Mekongga Kolaka……..Amin.

4 Responses to “Wakil Ketua DPRD Kolaka…”


  1. 1 ashari arifin April 6, 2008 pukul 5:56 pm

    saya jempol untuk beliau bahwa, bahwa tidak semua pejabat bisa seperti beliau yang mau bersama dengan Pencinta Alam mendaki gunung dan membina secara langsung teman2 PA di Kolaka…….Sukses citaka…bravo

    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    Citaka : Thanks Bang…..kalau ada kesempatan terus berikan input – input positif demi kemajuan Korps Citaka kedepan

  2. 2 Indhie April 12, 2008 pukul 6:12 pm

    Down to earth….itu kesan pertama yang terasa ketika bertemu beliau…jadi tidak heran kalau “natural style” begitu identik dengan beliau. Mungkin suatu kombinasi unik ketika budaya birokrat menyambangi dan menyatu dengan kehidupan “tak terstruktur” yang sering termarginalkan di mata orang-orang hedon.

    Saya yakin, beliau telah memaknai hidupnya dengan sangat bijak..seperti filosofi angin, tanah dan udara dan kebijakan itu akan terpatron dengan jelas dalam setiap langkahnya sebagai seorang Pejabat.

    Still walking on the sunny side of the street sir…

    Sukses Bang Udin,Love Citaka

    Rgrds,

    Indry

  3. 3 hamzah73 Februari 19, 2009 pukul 9:33 am

    syukurlah..bang Udin punya rasa dengan kita semuua..rakyat kecil.bang Udin.terus bersama rakyat..Insya Allah rakyat akan bersama Anda

  4. 4 zamsiah watuliandu Februari 19, 2009 pukul 5:12 pm

    Sudah seharusnya seperti itu semua anggota Legislatif dan para CALEG harus merakyat, karena mereka berjuang untuk kepentingan rakyat bukan kepentingan bla bla bla bla……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s







Info Citaka

*Bagi pengunjung yang akan memberi komentar, saran, dan kritik yang bersifat menghujat dan berpotensi sara akan kami edit, terima kasih

IDENTIFIKASI PENGUNJUNG

MY STATUS

Icak

Indy

Mien

Nelly

PENGUNJUNG ON LINE

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 271,495 Pengunjung

PENGUNJUNG TERAKHIR

DAPATKAN $ USD Dengan 1X Klik

http://adf.ly/97301/banner/www.google.com

BERITA BERITA TERBARU

Masukkan alamat Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 16 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: